• Moment

    Photo Prewed Ridlo dan Dessy

  • Cerpen

    Cintaku, cinta yang tak lekang oleh waktu

  • Artikel

    Tidak Mudah Stress

  • Artikel

    Extracinta dari Ayah

  • Showing posts with label Cerpen. Show all posts
    Showing posts with label Cerpen. Show all posts

    Thursday, June 19, 2014

    Pagi itu abrar berangkat sekolah sangat pagi. Tidak seperti biasanya dia langsung pergi tanpa mengajak arin untuk berangkat sekolah bareng. Abrar berangkat sekolah jam enam persis. Tukang becak yang biasanya mengantar juga ia acuhkan. Ibunya yang sudah membelikan sarapan nasi uduk juga ditinggalkan begitu saja. Dia hanya meminta uang saku dan pamitan mau buru-buru sampai kesekolah karena ada piket kelas.

    Arin berangkat sendiri ke sekolah diantar oleh tukang becak langganan yang setia antar jemput arin dan abrar setiap hari ke sekolah. Selain menjadi tukang becak dia juga ditugaskan untuk memata-matai pergerakan arin dan abrar disekolah. Itu juga dia lakukan karena memang pangkalan becaknya tidak jauh dari sekolah arin dan abrar. Dengan adanya tukang becak suruhan mama arin dan ibu abrar sebenarnya pergerakan arin dan abrar menjadi kurang bebas, karena jam masuk sekolah dan pulang sekolah sangat di tentukan. Mereka berdua tidak boleh menolak keputusan orang tuanya. Ini lantaran kejadian tempo lalu, saat arin dan abrar pulang sampai larut malam, karena maen dulu ke mall. Padahal itu bukan kesalahannya, mereka berdua pulang kemalaman karena saat itu angkot yang menuju daerah komplek mereka tinggal semuanya sedang demo kenaikan BBM. Alhasil semua orang juga ternyata sama harus jalan kaki menuju komplek perumahan. Tukang becak yang mengantar arin berangkat sekolah menanyakan beberapa pertanyaan pada arin, karena abrar saat itu tidak bersamanya. Namun arin hanya menjawab sekenanya, karena dia sedang cemas tugas dari guru matematika belum selesai.

    Di kelas abrar sedang serius menulis atau lebih tepatnya sedang menyalin pekerjaan rumah milik anita. Ternyata abrar sudah janjian dengan anita, anak paling rajin dan paling pinter matematika di kelas. Anita juga selalu mendapatkan nilai bagus saat ulangan. Selain nilai ulangannya yang bagus anita juga tak jarang mendapatkan ranking, baik di kelas atau juara umum disekolahnya. Gadis ABG yang banyak di gandrungi oleh anak-anak cowo di kelas dan di sekolah ini diam-diam suka dengan abrar. Anita sangat perhatian dan baik pada abrar. Dia juga sering memberikan contekan untuk abrar saat sedang ujian berlangsung. Ini rupanya celah yang dimanfaatkan oleh abrar tak menyia-nyiakan kesempatan untuk segera menyelesaikan tugas matematikanya yang belum selesai dengan cara janjian disaat jam sebelum masuk sekolah dengan cara berangkat lebih awal. Disisi lain anita merasa sangat senang bisa berdekatan dengan abrar.

    Melihat abrar sedang berduaan dikelas dengan anita, arin memandangnya dengan sinis dengan sedikit jealous. Ternyata abrar teman sejatinya itu pergi buru-buru berangkat sekolah meninggalkannya sendirian dengan tukang becak yang bau keringatnya sangat menyengat itu. Setidaknya kalau mereka jalan berdua bau keringat itu tidak dihirup sendirian, melainkan ada abrar yang ikut juga menghirupnya. Namun begitu sampai sekolah didapatinya abrar malah lagi asik berduaan dengan gadis yang giginya menggunakan kawat gigi itu. Arin semakin jengkel ketika anita membagikan bekal sarapannya untuk abrar. 

    Sementara itu abrar tetap fokus pada pekerjaannya, yaitu mencontek tugas matematika. Karena nanti pada jam pelajaran ke dua sebelum istirahat sudah harus dikumpulkan ke guru matematika. Kalau sampai tidak mengumpulkan tugas, bisa dipastikan bakalan jadi penghuni lapangan upacara bendera dan harus siap-siap selama jam pelajaran berlangsung hormat bendera. Karena pak Sembiring memberlakukan siapa saja yang tidak mengerjakan tugas akan diberi hukuman hormat pada bendera selama jam pelajaran, atau berdiri didepan kelas. Anak-anak   biasanya menyebutnya dengan sebutan “killer”. Sosoknya yang menakutkan dan seram membuat semua siswa takut pada guru matematika berjenis kelamin laki-laki yang sudah berumur empat puluh delapan itu sampai saat ini belum menikah. Sudah banyak siswa-siswi yang menjadi korban keganasannya. Baik itu berdiri di tengah-tengah lapangan siang bolong, hormat bendera, atau berdiri di depan kelas saat jam pelajaran berlangsung. Abrar tidak ingin itu terjadi padanya. Selain memalukan itu pasti akan jadi headlinenews di pemberitaan Koran komplek. Dan berita hangat untuk para ibu-ibu tukang rumpi di komplek rumahnya.

    Arin semakin gelisah saat bell tanda masuk sekolah berbunyi. Dia jengkel dan kesal karena sama sekali tidak dihiraukan oleh abrar yang sibuk dengan anita yang duduk disampingnya. Begitu guru sudah masuk kelas, abrar juga akhirnya menyelesaikan contekan yang diberikan oleh anita secara cuma-cuma itu. Anita yang setia menemani abrar mencontek tugas matematikanya itu, akhirnya pindah ke bangkunya sendiri yang berada di barisan paling depan. 

    Mata pelajaran pertama adalah pelajaran bahasa Indonesia. Gurunya bu eliza. Bu guru cantik yang sangat baik pada anak-anak. Dia sering memceritakan kisah-kisah menarik saat materi membuat cerpen. Bu Eliza juga sangat di cintai oleh semua murid karena kebaikan dan senyum manisnya yang ramah. Tak jarang juga banyak anak-anak yang ikut bu eliza kerumahnya untuk diajari membuat cerpen. Abrar sebagai ketua kelas menyiapkan teman-temannya untuk memberi salam dan hormat pada buguru yang baru masuk kelas.

    “Berdiri…” Teriak abrar.
    “Beri salam…” Lanjutnya.
    “Assalamualaikumwarahmatullohwabarokatuh…”teriak siswa-siswi sekelas secara kompak bersamaan.
    “waalaikumwarahmatullohwabarokatuh” jawab bu eliza tenang, dan seraya mengatakan
    “Silahkan duduk”
    “Berdoa Mulai..”Seru abrar, dan diikuti oleh semua siswa dikelas itu sambil menundukan kepala.
    “Selesai”…

    Hari itu bu eliza memberikan materi tentang menbuat puisi. Anak-anak semuanya semangat. Ibu eliza memberikan sebuah contoh puisi yang dia buat sendiri. Dan membacakan di hadapan semua murid-murid. Buguru eliza memerintahkan kepada semua mursid di kelas itu untuk membuat puisi dengan tema bebas.

    Abrar beranjak dari tempat duduknya mendekati arin yang bermuka masam. Arin rupanya masih memendam amarahnya. Abrar yang melihat gelagat arin seperti itu akhirnya menduga-duga apa yang sedang ada dipikiran arin. Dia tau kalau arin dan dia adalah teman sejati yang tidak bisa dipisahkan. Mungkin apa yang dirasakan sahabat sejatinya itu juga akan dirasakan oleh abrar. Dia tahu biasanya kalau ada tugas matematika sudah bisa dipastikan arin belum dikerjaan. Karena semalam sebelum tidur mereka berdua sempat SMSan kalau pekerjaan rumahnya belum juga dikerjakan. Abrar tidak mau juga sahabat sejatinya itu terkena sasaran dari guru paling killer di sekolah. Abrar tidak ingin melihat aring dijemur menghadap tiang bendera sendirian saat jam pelajaran berlangsung. Abrar dengan baik hati memberikan buku tugas matematikanya kepada arin, hasil contekan abrar dari anita.

    “ Rin, kamu belum ngerjain tugas matematika kan, nih aku udah selesai” sapa abrar.
    “kamu kok tau brar” jawab arin dengan muka manyun, bibir kemana-mana.
    “Tahulah kan aku sahabat sejatimu. Buruan kerjain nanti keburu mata pelajaran bahasa Indonesia selesai, nanti aku yang bikinin kamu puisi, tenang ajah” ujar abrar penuh perhatian kepada arin.
    “makasih ya brar, kamu emang teman sejati aku” balas arin penuh kegirangan.

    Semua murid sedang serius mebuatkan puisi sesuai dengan arahan bu eliza. Lain dengan arin yang justru sibuk mengerjakan tugas matematika. Abrar yang sudah janji untuk membuatkan arin puisi harus ekstra keras membuat sebuah puisi untuk teman sejatinya itu. Abrar membuat satu puisi cinta yang dia tunjukan untuk anita dan satu puisi untuk sahabat sejatinya arin. Abrar memang sangat menyukai puisi, dia sering membuat puisi untuk mading kelas ataupun majalah sekolah yang terbit setiap bulan. Namun abrar jarang menyebutkan nama aslinya, melaikan hanya mencantumkan inisial “A&A”. Banyak yang mengartikan kalau A&A adalah abrar anita. Sebagai wanita yang dekat dengan abrar, anita kadang merasa tersanjung karena mendapat puisi romantis oleh sang pujaan hati. Tapi bagi sahabat sejati abrar, arin meyakini jika A&A merupakan inisial mereka berdua yaitu abrar dan arin. 

    Tugas abrar membuatkan puisi untuk arin selesai. Dia lagi-lagi menghampiri arin yang rupanya masih sibuk mencontek tugas matematika abrar yang merupakan salinan dari tugas anita. Jadi bisa dipastikan tiga anak ini akan mendapat nilai yang sama persis. Karena semuanya hampir tak ada yang berbeda, kecuali tulisannya saja. 

    Akhirnya arin merasa lega setelah susah payah ngebut menyalin tugas matematika abrar. Kini dia kembali berkonsentrasi ke mata pelajaran yang sedang dihadapi. Arin mendengarkan abrar yang saat itu sedang membacakan puisi dihadapan murid-murid dikelas. Abrar membacakannya penuh dengan pengahayatan.

    “puisi ini aku buat seseorang” seru abrar sebelum membacakan puisi ciptaannya.

    Kau yang ada dihatiku

    Jika malam gelap bayangmu hadir
    Jika pagi datang, sosokmu menghampiriku
    Jika siang terik matahari menyengat tubuhku
    Kau hadir untuk menyejukan aku
    Jika sore menjelang, bayangan itu tetap jelas
    Hadir dalam relung hati.
    Kau disana hatimu disini.
    Kudisini hatiku ada untuk kau yang disana

    “terima kasih”

    Semua murid-murid dikelas itu bergemuruh, bertepuk tangan. Semuanya suka dengan karya yang baru saja abrar bacakan di depan kelas itu. Anita menjadi salah seseorang yang merasa sangay beruntung, karena berfikiran puisi itu untuk dia. Bu eliza juga memberikan selamat kepada abrar karena membuat puisi sebagus itu. Penghayatan abrar saat membaca juga menjadikan puisi itu serasa benar-benar dari dalam hati. Abrar membuat seisi kelas jadi kagum pada abrar. Selain tampan dan bersahaja ternyata abrar juga jago membuat puisi. Gadis-gadis lain teman kelas abrar jadi mulai simpatik pada satu sosok yang dikenal pendiam itu.

    Selesai abrar membacakan puisi yang idah itu, bu guru eliza menunjuk arin untuk membacakan puisinya. Arin merasa tidak sehebat abrar. Namun karena puisi yang dibuatkan abrar, arin menjadi sedikit pede untuk membacakannya didepan kelas. Dengan perasaan gugup arin maju kedepan kelas. Sesuai dengan petunjuk bu guru eliza arin langsung membuka kertas yang tadi abrar berikan saat bu guru eliza tidak ada dikelas.

    “baik sekarang saya mau bacakan puisi yang saya buat, judulnya…..sahabat sejati”

    Hadirmu dihari-hariku mebuatku hidup
    Penuh semangat, penuh kegembiraan,
    Dan penuh dengan kebahagiaan
    Semuanya kita jalani bersama
    Kaulah sahabat sejatiku

    “terima kasih”

    Puisinya cukup singkat namun bermakna cukup dalam. Teman-teman kelasnya memberikan tepuk tangan yang hampir sama ketika abrar tadi membacakan puisi. Buguru eliza juga memberikan ucapan selamat, menurut buguru puisinya bagus dan bermakna. Arin yang tidak merasa membuat puisi itu hanya biasa saja menanggapinya. Dengan selesainya puisi yang arin bacakan ternyata mata pelajaranpun selasai. Buguru eliza pamitan dan meninggalkan kelas. 

    Anak-anak dikelas berlarian kesana kemari, berlalu lalang. Ada yang keluar kelas untuk ke toilet, ada yang melempar-lempar buku, dan buat anak yang belum menyelesaikan tugas matematika mereka kesana kemari mencari contekan ke teman-temannya yang sudah selesai. Kegaduhan itu segera berakhir saat sesosok laki-laki yang tingginya kurang dari enam puluh sentimeter itu mendekat kearah kelas. Kumis lebatnya menandakan itu adalah pak killer. Dia datang dengan penuh wibawa, membawa beberapa buku di tangannya, dan yang paling penting adalah penggaris kayu berukuran besar yang multi fungsi. Selain untuk menggaris di papan tulis itu juga kadang menjadi senjata paling ampuh untuk membuat jera siswa, yaitu dengan menggebukannya di bagian yang dirasa cukup aman untuk memberikan pelajaran pada siswa yang tidak patuh pada perintahnya, atau melanggar aturan sekolah.

    “Silahkan kumpulkan tugas kalian, hari ini bapak ada meeting dengan kepala sekolah”
    “horeeeeeeeee” semua kelas berterik kegirangan, sepertinya mereka sangat senang.

    Blak-blak-blak….!!! Penggaris panjang dari kayu itu dipukul-pukulkan ke meja oleh pak killer dengan sangat keras. Hingga membuat semua siswa terdiam dengan sekejap. Suasana kelas tenang, sunyi, senyap!

    “Kalian ini ada guru meeting malah pada seneng. Kalian tidak boleh ada yang keluyuran keluar kelas, kalau ketahuan nanti bapak hukum kalian berdiri di lapangan, hormat pada bendera” dengan nada keras dan muka garang pak killer memperingati semua murid. Kelas menjadi tenang dan serius mencatat tugas yang diberikan oleh pak killer. Buku tugas dikumpulkan oleh abrar yang bertindak sebagai ketua kelas. Dia juga mengantarkan buku tugas itu ke ruangan guru, dan menaruhnya di meja pak killer yang berada di tempat paling pojok sebelah utara.

    Pak killer Seakan tidak mau kalau saat mata pelajarannya tiba ada yang mengganggu. Dan jangan ada yang namanya meeting, karena pelajaran menurutnya lebih penting dari sekedar meeting, kalau memang hasilnya tidak terlalu penting. Namun dia merasa, dia hanyalah bawahan yang harus mengikuti atasanya.

    Sepulang sekolah tukang becak langganan arin dan abrar sudah menunggu di depan gerbang sekolah. Dia dengan senang hati mengantarkan keduanya kerumah masing-masing. Padahal rumahnya hanya berjarak sepuluh meter dan berhadapan. 

    Malam harinya arin mengajak abrar untuk belajar bareng karena ada tugas tugas fisika. Karena seharian tadi semua guru meeting akhirnya banyak guru yang hanya memberikan tugas. Hal itu juga dilakukan oleh guru fisika yang memberikan banyak tugas, boleh diselesaikan dirumah jikalau tidak selesai di kerjakan saat jam pelajaran.

    Kring….! Bell berbunyi.

    “Hallo..”
    “Ya..hallo”
    “Siapa disana..”
    “Ini arin kak yada, abrar ada”
    “Ada, bentar yah dipanggilin dulu”
    “Hallo, ada apaan rin”
    “Iya hallo brar, kamu udah selesaiin tugas fisika belum”
    “Belum nih, memang kenapa”
    “Mau ngejain bareng nggak”
    “Hmm gimana yah, Yaudah, aku kerumah kamu yah”
    “Oke, ditunggu yah!”

    Dengan segera abrar mengemas buku-bukunya yang berantakan di meja belajar dan langsung menuju rumah arin yang ada diseberang rumahnya. Tak lupa dia meminta izin pada orang tuanya untuk mengerjakan tugas bareng dirumah arin. Ibunyapun langsung mengizinkan, karena ibunya juga ternyata mau maen kerumah mama arin. Jelas tujuaanya adalah untuk ngerumpi dengan ibu-ibu komplek lain yang sudah dari tadi berkumpul di depan rumah mama arin. Sekali dayung dua pekerjaan dilewati, sambil melihat anak-anak belajar ibu abrar juga bisa sambil ngerumpi.

    Sesampainya di rumah arin, abrar langsung mengeluarkan buku tugas fisika. Arin hanya santai di tempat duduk dan menghadap computer yang ada di meja belajar. 

    “Kamu lagi ngapain rin, katanya mau belajar bareng kok malah buka-buka internet gitu”
    “Hehehe, emang kamu bisa ngerjain tugas fisika brar”
    “Nggak” abrar menggelengkan kepala.
    “Terus mau ngerjain apa sekarang, aku juga kan nggak bisa pelajaran fisika”

    Abrar heran pada pernyataan arin barusan, terus buat apa dia malah mengajaknya untuk menyesesaikan tugas fisika itu. Sudah tahu diantara mereka berdua tidak ada yang suka dengan pelajaran itu. Namun arin masih sibuk dengan komputernya. Arin membuka email yang dikirim oleh Yogi. Ternyata itu adalah jawaban tugas fisika. Abrar hanya diam membisu melihat arin yang menyodorkan hasil print yang diberikan oleh arin. Ternyata arin dan abrar sama-sama memanfaatkan orang untuk menyelesaikan pekerjaan rumah yang dia tidak tahu. Yogi memberikan jawaban tugas fisikanya itu karena dia dekat dengan arin. Sebenarnya yogi tidak satu kelas dengan arin dan abrar, namun dia diam-diam memperhatikan arin. Namun demikian mereka langsung segera menyalin tugas fisika itu sesuai dengan apa yang yogi kirimkan lewat email.

    Malam itu arin dan abrar menjadikan persahabatan sejati. Saling tolong menolong dalam susah dan senang, tolong menolong disemua kegiatan. Termasuk contek mencontek tugas pelajaran. Dan memanfaatkan orang lain demi keutuhan persahabatannya. Disinilah persahabatan itu ada. (/rdl)

    Matematika vs Fisika

    Posted at  Thursday, June 19, 2014  |  in  Cerpen  |  Read More»

    Pagi itu abrar berangkat sekolah sangat pagi. Tidak seperti biasanya dia langsung pergi tanpa mengajak arin untuk berangkat sekolah bareng. Abrar berangkat sekolah jam enam persis. Tukang becak yang biasanya mengantar juga ia acuhkan. Ibunya yang sudah membelikan sarapan nasi uduk juga ditinggalkan begitu saja. Dia hanya meminta uang saku dan pamitan mau buru-buru sampai kesekolah karena ada piket kelas.

    Arin berangkat sendiri ke sekolah diantar oleh tukang becak langganan yang setia antar jemput arin dan abrar setiap hari ke sekolah. Selain menjadi tukang becak dia juga ditugaskan untuk memata-matai pergerakan arin dan abrar disekolah. Itu juga dia lakukan karena memang pangkalan becaknya tidak jauh dari sekolah arin dan abrar. Dengan adanya tukang becak suruhan mama arin dan ibu abrar sebenarnya pergerakan arin dan abrar menjadi kurang bebas, karena jam masuk sekolah dan pulang sekolah sangat di tentukan. Mereka berdua tidak boleh menolak keputusan orang tuanya. Ini lantaran kejadian tempo lalu, saat arin dan abrar pulang sampai larut malam, karena maen dulu ke mall. Padahal itu bukan kesalahannya, mereka berdua pulang kemalaman karena saat itu angkot yang menuju daerah komplek mereka tinggal semuanya sedang demo kenaikan BBM. Alhasil semua orang juga ternyata sama harus jalan kaki menuju komplek perumahan. Tukang becak yang mengantar arin berangkat sekolah menanyakan beberapa pertanyaan pada arin, karena abrar saat itu tidak bersamanya. Namun arin hanya menjawab sekenanya, karena dia sedang cemas tugas dari guru matematika belum selesai.

    Di kelas abrar sedang serius menulis atau lebih tepatnya sedang menyalin pekerjaan rumah milik anita. Ternyata abrar sudah janjian dengan anita, anak paling rajin dan paling pinter matematika di kelas. Anita juga selalu mendapatkan nilai bagus saat ulangan. Selain nilai ulangannya yang bagus anita juga tak jarang mendapatkan ranking, baik di kelas atau juara umum disekolahnya. Gadis ABG yang banyak di gandrungi oleh anak-anak cowo di kelas dan di sekolah ini diam-diam suka dengan abrar. Anita sangat perhatian dan baik pada abrar. Dia juga sering memberikan contekan untuk abrar saat sedang ujian berlangsung. Ini rupanya celah yang dimanfaatkan oleh abrar tak menyia-nyiakan kesempatan untuk segera menyelesaikan tugas matematikanya yang belum selesai dengan cara janjian disaat jam sebelum masuk sekolah dengan cara berangkat lebih awal. Disisi lain anita merasa sangat senang bisa berdekatan dengan abrar.

    Melihat abrar sedang berduaan dikelas dengan anita, arin memandangnya dengan sinis dengan sedikit jealous. Ternyata abrar teman sejatinya itu pergi buru-buru berangkat sekolah meninggalkannya sendirian dengan tukang becak yang bau keringatnya sangat menyengat itu. Setidaknya kalau mereka jalan berdua bau keringat itu tidak dihirup sendirian, melainkan ada abrar yang ikut juga menghirupnya. Namun begitu sampai sekolah didapatinya abrar malah lagi asik berduaan dengan gadis yang giginya menggunakan kawat gigi itu. Arin semakin jengkel ketika anita membagikan bekal sarapannya untuk abrar. 

    Sementara itu abrar tetap fokus pada pekerjaannya, yaitu mencontek tugas matematika. Karena nanti pada jam pelajaran ke dua sebelum istirahat sudah harus dikumpulkan ke guru matematika. Kalau sampai tidak mengumpulkan tugas, bisa dipastikan bakalan jadi penghuni lapangan upacara bendera dan harus siap-siap selama jam pelajaran berlangsung hormat bendera. Karena pak Sembiring memberlakukan siapa saja yang tidak mengerjakan tugas akan diberi hukuman hormat pada bendera selama jam pelajaran, atau berdiri didepan kelas. Anak-anak   biasanya menyebutnya dengan sebutan “killer”. Sosoknya yang menakutkan dan seram membuat semua siswa takut pada guru matematika berjenis kelamin laki-laki yang sudah berumur empat puluh delapan itu sampai saat ini belum menikah. Sudah banyak siswa-siswi yang menjadi korban keganasannya. Baik itu berdiri di tengah-tengah lapangan siang bolong, hormat bendera, atau berdiri di depan kelas saat jam pelajaran berlangsung. Abrar tidak ingin itu terjadi padanya. Selain memalukan itu pasti akan jadi headlinenews di pemberitaan Koran komplek. Dan berita hangat untuk para ibu-ibu tukang rumpi di komplek rumahnya.

    Arin semakin gelisah saat bell tanda masuk sekolah berbunyi. Dia jengkel dan kesal karena sama sekali tidak dihiraukan oleh abrar yang sibuk dengan anita yang duduk disampingnya. Begitu guru sudah masuk kelas, abrar juga akhirnya menyelesaikan contekan yang diberikan oleh anita secara cuma-cuma itu. Anita yang setia menemani abrar mencontek tugas matematikanya itu, akhirnya pindah ke bangkunya sendiri yang berada di barisan paling depan. 

    Mata pelajaran pertama adalah pelajaran bahasa Indonesia. Gurunya bu eliza. Bu guru cantik yang sangat baik pada anak-anak. Dia sering memceritakan kisah-kisah menarik saat materi membuat cerpen. Bu Eliza juga sangat di cintai oleh semua murid karena kebaikan dan senyum manisnya yang ramah. Tak jarang juga banyak anak-anak yang ikut bu eliza kerumahnya untuk diajari membuat cerpen. Abrar sebagai ketua kelas menyiapkan teman-temannya untuk memberi salam dan hormat pada buguru yang baru masuk kelas.

    “Berdiri…” Teriak abrar.
    “Beri salam…” Lanjutnya.
    “Assalamualaikumwarahmatullohwabarokatuh…”teriak siswa-siswi sekelas secara kompak bersamaan.
    “waalaikumwarahmatullohwabarokatuh” jawab bu eliza tenang, dan seraya mengatakan
    “Silahkan duduk”
    “Berdoa Mulai..”Seru abrar, dan diikuti oleh semua siswa dikelas itu sambil menundukan kepala.
    “Selesai”…

    Hari itu bu eliza memberikan materi tentang menbuat puisi. Anak-anak semuanya semangat. Ibu eliza memberikan sebuah contoh puisi yang dia buat sendiri. Dan membacakan di hadapan semua murid-murid. Buguru eliza memerintahkan kepada semua mursid di kelas itu untuk membuat puisi dengan tema bebas.

    Abrar beranjak dari tempat duduknya mendekati arin yang bermuka masam. Arin rupanya masih memendam amarahnya. Abrar yang melihat gelagat arin seperti itu akhirnya menduga-duga apa yang sedang ada dipikiran arin. Dia tau kalau arin dan dia adalah teman sejati yang tidak bisa dipisahkan. Mungkin apa yang dirasakan sahabat sejatinya itu juga akan dirasakan oleh abrar. Dia tahu biasanya kalau ada tugas matematika sudah bisa dipastikan arin belum dikerjaan. Karena semalam sebelum tidur mereka berdua sempat SMSan kalau pekerjaan rumahnya belum juga dikerjakan. Abrar tidak mau juga sahabat sejatinya itu terkena sasaran dari guru paling killer di sekolah. Abrar tidak ingin melihat aring dijemur menghadap tiang bendera sendirian saat jam pelajaran berlangsung. Abrar dengan baik hati memberikan buku tugas matematikanya kepada arin, hasil contekan abrar dari anita.

    “ Rin, kamu belum ngerjain tugas matematika kan, nih aku udah selesai” sapa abrar.
    “kamu kok tau brar” jawab arin dengan muka manyun, bibir kemana-mana.
    “Tahulah kan aku sahabat sejatimu. Buruan kerjain nanti keburu mata pelajaran bahasa Indonesia selesai, nanti aku yang bikinin kamu puisi, tenang ajah” ujar abrar penuh perhatian kepada arin.
    “makasih ya brar, kamu emang teman sejati aku” balas arin penuh kegirangan.

    Semua murid sedang serius mebuatkan puisi sesuai dengan arahan bu eliza. Lain dengan arin yang justru sibuk mengerjakan tugas matematika. Abrar yang sudah janji untuk membuatkan arin puisi harus ekstra keras membuat sebuah puisi untuk teman sejatinya itu. Abrar membuat satu puisi cinta yang dia tunjukan untuk anita dan satu puisi untuk sahabat sejatinya arin. Abrar memang sangat menyukai puisi, dia sering membuat puisi untuk mading kelas ataupun majalah sekolah yang terbit setiap bulan. Namun abrar jarang menyebutkan nama aslinya, melaikan hanya mencantumkan inisial “A&A”. Banyak yang mengartikan kalau A&A adalah abrar anita. Sebagai wanita yang dekat dengan abrar, anita kadang merasa tersanjung karena mendapat puisi romantis oleh sang pujaan hati. Tapi bagi sahabat sejati abrar, arin meyakini jika A&A merupakan inisial mereka berdua yaitu abrar dan arin. 

    Tugas abrar membuatkan puisi untuk arin selesai. Dia lagi-lagi menghampiri arin yang rupanya masih sibuk mencontek tugas matematika abrar yang merupakan salinan dari tugas anita. Jadi bisa dipastikan tiga anak ini akan mendapat nilai yang sama persis. Karena semuanya hampir tak ada yang berbeda, kecuali tulisannya saja. 

    Akhirnya arin merasa lega setelah susah payah ngebut menyalin tugas matematika abrar. Kini dia kembali berkonsentrasi ke mata pelajaran yang sedang dihadapi. Arin mendengarkan abrar yang saat itu sedang membacakan puisi dihadapan murid-murid dikelas. Abrar membacakannya penuh dengan pengahayatan.

    “puisi ini aku buat seseorang” seru abrar sebelum membacakan puisi ciptaannya.

    Kau yang ada dihatiku

    Jika malam gelap bayangmu hadir
    Jika pagi datang, sosokmu menghampiriku
    Jika siang terik matahari menyengat tubuhku
    Kau hadir untuk menyejukan aku
    Jika sore menjelang, bayangan itu tetap jelas
    Hadir dalam relung hati.
    Kau disana hatimu disini.
    Kudisini hatiku ada untuk kau yang disana

    “terima kasih”

    Semua murid-murid dikelas itu bergemuruh, bertepuk tangan. Semuanya suka dengan karya yang baru saja abrar bacakan di depan kelas itu. Anita menjadi salah seseorang yang merasa sangay beruntung, karena berfikiran puisi itu untuk dia. Bu eliza juga memberikan selamat kepada abrar karena membuat puisi sebagus itu. Penghayatan abrar saat membaca juga menjadikan puisi itu serasa benar-benar dari dalam hati. Abrar membuat seisi kelas jadi kagum pada abrar. Selain tampan dan bersahaja ternyata abrar juga jago membuat puisi. Gadis-gadis lain teman kelas abrar jadi mulai simpatik pada satu sosok yang dikenal pendiam itu.

    Selesai abrar membacakan puisi yang idah itu, bu guru eliza menunjuk arin untuk membacakan puisinya. Arin merasa tidak sehebat abrar. Namun karena puisi yang dibuatkan abrar, arin menjadi sedikit pede untuk membacakannya didepan kelas. Dengan perasaan gugup arin maju kedepan kelas. Sesuai dengan petunjuk bu guru eliza arin langsung membuka kertas yang tadi abrar berikan saat bu guru eliza tidak ada dikelas.

    “baik sekarang saya mau bacakan puisi yang saya buat, judulnya…..sahabat sejati”

    Hadirmu dihari-hariku mebuatku hidup
    Penuh semangat, penuh kegembiraan,
    Dan penuh dengan kebahagiaan
    Semuanya kita jalani bersama
    Kaulah sahabat sejatiku

    “terima kasih”

    Puisinya cukup singkat namun bermakna cukup dalam. Teman-teman kelasnya memberikan tepuk tangan yang hampir sama ketika abrar tadi membacakan puisi. Buguru eliza juga memberikan ucapan selamat, menurut buguru puisinya bagus dan bermakna. Arin yang tidak merasa membuat puisi itu hanya biasa saja menanggapinya. Dengan selesainya puisi yang arin bacakan ternyata mata pelajaranpun selasai. Buguru eliza pamitan dan meninggalkan kelas. 

    Anak-anak dikelas berlarian kesana kemari, berlalu lalang. Ada yang keluar kelas untuk ke toilet, ada yang melempar-lempar buku, dan buat anak yang belum menyelesaikan tugas matematika mereka kesana kemari mencari contekan ke teman-temannya yang sudah selesai. Kegaduhan itu segera berakhir saat sesosok laki-laki yang tingginya kurang dari enam puluh sentimeter itu mendekat kearah kelas. Kumis lebatnya menandakan itu adalah pak killer. Dia datang dengan penuh wibawa, membawa beberapa buku di tangannya, dan yang paling penting adalah penggaris kayu berukuran besar yang multi fungsi. Selain untuk menggaris di papan tulis itu juga kadang menjadi senjata paling ampuh untuk membuat jera siswa, yaitu dengan menggebukannya di bagian yang dirasa cukup aman untuk memberikan pelajaran pada siswa yang tidak patuh pada perintahnya, atau melanggar aturan sekolah.

    “Silahkan kumpulkan tugas kalian, hari ini bapak ada meeting dengan kepala sekolah”
    “horeeeeeeeee” semua kelas berterik kegirangan, sepertinya mereka sangat senang.

    Blak-blak-blak….!!! Penggaris panjang dari kayu itu dipukul-pukulkan ke meja oleh pak killer dengan sangat keras. Hingga membuat semua siswa terdiam dengan sekejap. Suasana kelas tenang, sunyi, senyap!

    “Kalian ini ada guru meeting malah pada seneng. Kalian tidak boleh ada yang keluyuran keluar kelas, kalau ketahuan nanti bapak hukum kalian berdiri di lapangan, hormat pada bendera” dengan nada keras dan muka garang pak killer memperingati semua murid. Kelas menjadi tenang dan serius mencatat tugas yang diberikan oleh pak killer. Buku tugas dikumpulkan oleh abrar yang bertindak sebagai ketua kelas. Dia juga mengantarkan buku tugas itu ke ruangan guru, dan menaruhnya di meja pak killer yang berada di tempat paling pojok sebelah utara.

    Pak killer Seakan tidak mau kalau saat mata pelajarannya tiba ada yang mengganggu. Dan jangan ada yang namanya meeting, karena pelajaran menurutnya lebih penting dari sekedar meeting, kalau memang hasilnya tidak terlalu penting. Namun dia merasa, dia hanyalah bawahan yang harus mengikuti atasanya.

    Sepulang sekolah tukang becak langganan arin dan abrar sudah menunggu di depan gerbang sekolah. Dia dengan senang hati mengantarkan keduanya kerumah masing-masing. Padahal rumahnya hanya berjarak sepuluh meter dan berhadapan. 

    Malam harinya arin mengajak abrar untuk belajar bareng karena ada tugas tugas fisika. Karena seharian tadi semua guru meeting akhirnya banyak guru yang hanya memberikan tugas. Hal itu juga dilakukan oleh guru fisika yang memberikan banyak tugas, boleh diselesaikan dirumah jikalau tidak selesai di kerjakan saat jam pelajaran.

    Kring….! Bell berbunyi.

    “Hallo..”
    “Ya..hallo”
    “Siapa disana..”
    “Ini arin kak yada, abrar ada”
    “Ada, bentar yah dipanggilin dulu”
    “Hallo, ada apaan rin”
    “Iya hallo brar, kamu udah selesaiin tugas fisika belum”
    “Belum nih, memang kenapa”
    “Mau ngejain bareng nggak”
    “Hmm gimana yah, Yaudah, aku kerumah kamu yah”
    “Oke, ditunggu yah!”

    Dengan segera abrar mengemas buku-bukunya yang berantakan di meja belajar dan langsung menuju rumah arin yang ada diseberang rumahnya. Tak lupa dia meminta izin pada orang tuanya untuk mengerjakan tugas bareng dirumah arin. Ibunyapun langsung mengizinkan, karena ibunya juga ternyata mau maen kerumah mama arin. Jelas tujuaanya adalah untuk ngerumpi dengan ibu-ibu komplek lain yang sudah dari tadi berkumpul di depan rumah mama arin. Sekali dayung dua pekerjaan dilewati, sambil melihat anak-anak belajar ibu abrar juga bisa sambil ngerumpi.

    Sesampainya di rumah arin, abrar langsung mengeluarkan buku tugas fisika. Arin hanya santai di tempat duduk dan menghadap computer yang ada di meja belajar. 

    “Kamu lagi ngapain rin, katanya mau belajar bareng kok malah buka-buka internet gitu”
    “Hehehe, emang kamu bisa ngerjain tugas fisika brar”
    “Nggak” abrar menggelengkan kepala.
    “Terus mau ngerjain apa sekarang, aku juga kan nggak bisa pelajaran fisika”

    Abrar heran pada pernyataan arin barusan, terus buat apa dia malah mengajaknya untuk menyesesaikan tugas fisika itu. Sudah tahu diantara mereka berdua tidak ada yang suka dengan pelajaran itu. Namun arin masih sibuk dengan komputernya. Arin membuka email yang dikirim oleh Yogi. Ternyata itu adalah jawaban tugas fisika. Abrar hanya diam membisu melihat arin yang menyodorkan hasil print yang diberikan oleh arin. Ternyata arin dan abrar sama-sama memanfaatkan orang untuk menyelesaikan pekerjaan rumah yang dia tidak tahu. Yogi memberikan jawaban tugas fisikanya itu karena dia dekat dengan arin. Sebenarnya yogi tidak satu kelas dengan arin dan abrar, namun dia diam-diam memperhatikan arin. Namun demikian mereka langsung segera menyalin tugas fisika itu sesuai dengan apa yang yogi kirimkan lewat email.

    Malam itu arin dan abrar menjadikan persahabatan sejati. Saling tolong menolong dalam susah dan senang, tolong menolong disemua kegiatan. Termasuk contek mencontek tugas pelajaran. Dan memanfaatkan orang lain demi keutuhan persahabatannya. Disinilah persahabatan itu ada. (/rdl)

    Wednesday, June 18, 2014

    Sore itu Arin dan Abrar sahabat sejati sejak duduk di bangku TK pulang terlambat. Mama Arin dan Ibu Abrar di rumah sudah sangat khawatir menunggu kepulangan anak kesayangannya itu. HP mereka berdua tidak bisa di hubungi. Selepas maghrib ibu abrar datang ke rumah mama arin dengan muka sangat cemas. Semua orang yang lewat di depan rumah pasti di berhentikan untuk ditanya-tanya, dimana arin dan abrar berada. Tukang becak yang biasa mengantar arin dan abrar pun di interogasi layaknya pencuri yang ketahuan sedang menguntit baju dalaman di sebuah mall. Mama arin dan ibu abrar bak satpam yang menggunakan detector. Bermuka garang, berikat pinggang besar, dan mengayunkan kesana kemari pandangannya.

    Tidak seperti biasanya arin dan abrar pergi tanpa kabar seperti ini. Biasanya selepas sekolah dia langsung pulang. Kalaupun ingin pergi mereka pamitan dulu ke orang tuanya. Namun kali ini mereka benar-benar sudah membuat cemas semua orang. Tukang nasi goreng yang biasanya selalu membunyikan wajannya di depan rumah mama arin, kali ini tidak berani sekalipun membunyikan, karena takut kena sasaran orang yang sedang dilanda kecemasan. Padahal itu baginya merupakan tindakan yang sangat merugikan, karena bagaimana lagi dia bisa memanggil para pelanggan setianya.

    Menurut informasi yang dihimpun dari keterangan teman-teman sekolah arin dan abrar, selepas sekolah mereka langsung buru-buru pulang. Tapi tidak tahu kalau mereka berdua tidak sampai rumah. Karena biasanya mereka jarang pulang bersama-sama. Teman-temannya yang lainpun tidak ada yang melihat arin dan abrar kemana. Namun mereka hanya sebatas memberikan informasi seadanya. Biasanya kalau ada pekerjaan rumah yang harus di selesaikan di warnet mereka selalu bersama, namun kali itu tidak ada pekerjaan rumah. Jadi bisa dipastikan mereka tidak maen ke warnet.

    Karena sudah merasa frustasi, mama arin dan ibu abrar akhirnya mencari arin dan abrar di warnet yang biasa mereka kunjungi, namun hasilnya nihil. Arin dan abrar tetap saja tidak ditemukan. Disana beberapa penjaga warnet juga tak luput dari interogasi. Mama arin dan ibu abrar mendesak mereka untuk mencari tau keberadaan anak-anak mereka yang baru genap berusia tiga belas tahun. Karena tidak ada pencerahan akhirnya mereka berduapun pulang dengan tangan hampa. Raut muka kedua orang tua bocah ingusan itu kini sudah semakin cemas. Mereka tidak ingin melihat kenyataan anaknya ditemukan sudah tidak bernyawa atau dinyatakan hilang untuk sementara waktu, seperti yang ada di tivi-tivi belakangan ini. Banyak kasus penculikan anak, untuk di jadikan pengemis. Bayangan itu semakin di perparah kala ada orang yang secara sengaja menambahkan bumbu-bumbu tak sedap, seperti merica, bawang merah, bawang putih berlebihan.

    Suasana menjadi semakin runyam kala ada orang yang memberikan masukan untuk melaporkannya ke kantor polisi. Bahwasannya anak mereka berdua telah hilang. Membayangkan betapa ribetnya cara peloporan dan juga administrasi yang harus di lengkapi, usulan itupun di abaikan begitu saja. Di televisi chanel tv-one sering menyiarkan kalau ada orang hilang. Biasanya dilakukan secara live pagi hari. Tapi itu tidak akan berjalan mulus, karena dipikir untuk mencapai daerah bundaran HI pagi hari itu sangat sulit. Dan mereka juga berfikiran nggak bakalan mungkin ketemu, wong jalan Jakarta ajah tidak tahu sama sekali.

    Hari sudah mulai gelap, malampun sudah menunjukan seramnya. Lampu-lampu jalan menyoroti sebagian jalan, sementara cahaya lainnya menerpa dedaunan yang ada di sekelilingnya. Namun cahaya itu tidak berpihak pada mama arin dan ibu abrar yang sudah semakin resah dan gelisah, menunggu putra putri kebanggaan masyarakat komplek karena dia pernah jadi juara makan ketupat di acara agustusan kemarin. Kabar ini meluas seantero komplek, semua orang tau berkat laporan dari beberapa tukang becak yang keliling di sekitar komplek itu. Bak virus mematikan penyebarannya sudah sangat cepat, ini menjadi headlinenews. Mungkin kalau ada kantor berita di dekat koplek mereka langsung memuatnya dengan judul utama “Misteri Hilangnya Arin dan Abrar” atau mungkin surat kabar lain yang tidak mau ketinggalan berita terhangat ini akan menulis judul “Sebuah Misteri Dua Sahabat Sejati Hilang”. Dan penjualan Koran itu akan mendapatkan keuntungan yang sangat luar biasa. Karena seluruh warga komplek akan membelinya.

    Ibu-ibu komplek yang setiap harinya berkumpul untuk sekedar ngerumpi juga akhirnya ikut turun tangan, mengerahkan segala kemampuan, daya dan upaya untuk pencarian ini. Kalau ditelisik dari hilangnya arin dan abrar ini sudah seperti hilangnya pesawat MH370 Malaysia Airline yang hilang kontak saat melakukan penerbangan dari Malaysia ke Hongkong. Hilang dan tak pernah ada lagi kabarnya sampai saat ini. Kemungkinan bagianya sudah menjadi puing-puing yang berterbangan di laut lepas Antartika, atau mungkin juga sudah sampai kutub utara.

    Tapi hal itu tidak mungkin terjadi pada arin dan abrar, sahabat sejati yang tak pernah lupa diri, tidak sombong dan sayang orang tua. Tidak mungkin seorang anak kecil yang baru akan duduk di kelas dua SMP pergi sampai Antartika ataupun main-main sampai ke kutub utara. Padahal mereka tidak menggunakan perlengkapan penuh. Tidak pakai jaket musim salju, tidak bawa penghangat badan, kayak minyak telon dan minyak angin cak kapak, ataupun membawa anjing yang siap membantu mereka saat kesusahan.

    Keputusasaanpun menghampiri semua warga komplek, terlebih kedua orang tuanya. Seorang paranormal yang menjadi andalan komplek juga di terjunkan langsung dari atas genteng. Dia terkena sedikit benturan saat melakukan penerjunannya. Darah segar mengalir dari pelipis kanannya. Oh ternyata dia bukan paranormal yang sedang ditunggu, melaikan mang jui, tukang urut tuna netra yang kesandung batu dan jatuh dari atas atap rumah mama arin, karena salah perkiraan jalan. Seharusnya jalan raya yang dilewati dia malah menyusuri jalan kucing di atas atap-atap rumah orang.

    Dari beberapa benda yang dia bawa ada beberapa benda yang dicurigai oleh beberapa orang. Setelah di buka ternyata itu adalah HP, TAB, Laptop, Dompet, dan beberpa kotak perhiasan. Kelengangan warga yang sedang mencari arin dan abrar ternyata diendus oleh mang jui yang langsung melakukan aksinya untuk mencuri. Ternyata selama ini kacamata hitam dan tongkat kayunya itu hanyalah alat untuk mengelabuhi orang-orang supaya tidak ketahuan, bahwasannya dia sedang mengincar beberapa barang-barang milik warga. Dia juga sangat leluasa untuk mengintai beberapa rumah. Karena dia sering diajak masuk untuk menguruti orang. Dia dibawa ke dalam rumah, disuruh mijit. Tapi mungkin karena kelihaiannya itu mang jui bisa menyiasati, bagian-bagian mana saja yang bisa dilakukan untuk beraksi nantinya.

    Kerumunan wargapun semakin banyak kala pencuri yang tidak sengaja ditemukan itu di hakimi oleh warga. Matanya yang pura-pura buta menjadi buta beneran. Karena bogem mentah dari warga tak henti-hentinya mendarat di mata mang jui. Sumpah serapah dari para warga menjadi-jadi. Kata-kata keji dan terhina keluar dari mulut mereka. Sejenak arin dan abrar dilupakan! Warga mengarak pencuri yang tertangkap basah itu ke balai desa setempat. Padahal kalau dipikir lagi secara benar, antara balai desa dan kantor polisi jaraknya lebih dekat kantor polisi, tapi kenapa warga malah mengaraknya kesana. Hal yang membingungkan sesuatu yang perlu dipertanyakan lebih lanjut. Arin dan abrar lagi-lagi sudah dilupakan! Kini Koran-koran komplek berubah judul “Seorang tuna netra babak belur karena kedapatan mencuri”, dari koran yang lain juga tak mau kalah menerbitkan koran dengan judul “Pura-pura jadi tukang pijit, mang jui malah ngutil barang pelanggan, babak belur deh di hakimi warga”. Kedua Koran komplek itu saling beradu bahasa untuk menarik pelanggan.


    Waktu sudah mulai larut, para warga masih sibuk dengan arak-arakan pencuri yang dihakimi tadi. Mereka membicarakannya sepanjang malam. Di beberapa pos ronda kini akhirnya banyak orang yang dengan sukarela untuk berjaga, membantu tugas hansip yang personilnya sangat terbatas. Karena pencuri dengan kedok seperti ini sudah sangat meresahkan warga. Banyak kejadian-kejadian seperti ini yang sangat sulit untuk diurai perkaranya. Bahkan mungkin butuh detektif atau agen CIA sekalipun untuk mencari tau siapa dalang dari semua ini. Lagi-lagi arin dan abrar sudah benar-benar di lupakan oleh warga!! Padahal urusannya lebih penting dari sekedar membicarakan pencuri yang tertangkap tidak sengaja itu. (Ceritanya Bersambung dulu yah capek!)

    Misteri Hilangnya "Sahabat Sejati" Arin dan Abrar

    Posted at  Wednesday, June 18, 2014  |  in  Cerpen  |  Read More»

    Sore itu Arin dan Abrar sahabat sejati sejak duduk di bangku TK pulang terlambat. Mama Arin dan Ibu Abrar di rumah sudah sangat khawatir menunggu kepulangan anak kesayangannya itu. HP mereka berdua tidak bisa di hubungi. Selepas maghrib ibu abrar datang ke rumah mama arin dengan muka sangat cemas. Semua orang yang lewat di depan rumah pasti di berhentikan untuk ditanya-tanya, dimana arin dan abrar berada. Tukang becak yang biasa mengantar arin dan abrar pun di interogasi layaknya pencuri yang ketahuan sedang menguntit baju dalaman di sebuah mall. Mama arin dan ibu abrar bak satpam yang menggunakan detector. Bermuka garang, berikat pinggang besar, dan mengayunkan kesana kemari pandangannya.

    Tidak seperti biasanya arin dan abrar pergi tanpa kabar seperti ini. Biasanya selepas sekolah dia langsung pulang. Kalaupun ingin pergi mereka pamitan dulu ke orang tuanya. Namun kali ini mereka benar-benar sudah membuat cemas semua orang. Tukang nasi goreng yang biasanya selalu membunyikan wajannya di depan rumah mama arin, kali ini tidak berani sekalipun membunyikan, karena takut kena sasaran orang yang sedang dilanda kecemasan. Padahal itu baginya merupakan tindakan yang sangat merugikan, karena bagaimana lagi dia bisa memanggil para pelanggan setianya.

    Menurut informasi yang dihimpun dari keterangan teman-teman sekolah arin dan abrar, selepas sekolah mereka langsung buru-buru pulang. Tapi tidak tahu kalau mereka berdua tidak sampai rumah. Karena biasanya mereka jarang pulang bersama-sama. Teman-temannya yang lainpun tidak ada yang melihat arin dan abrar kemana. Namun mereka hanya sebatas memberikan informasi seadanya. Biasanya kalau ada pekerjaan rumah yang harus di selesaikan di warnet mereka selalu bersama, namun kali itu tidak ada pekerjaan rumah. Jadi bisa dipastikan mereka tidak maen ke warnet.

    Karena sudah merasa frustasi, mama arin dan ibu abrar akhirnya mencari arin dan abrar di warnet yang biasa mereka kunjungi, namun hasilnya nihil. Arin dan abrar tetap saja tidak ditemukan. Disana beberapa penjaga warnet juga tak luput dari interogasi. Mama arin dan ibu abrar mendesak mereka untuk mencari tau keberadaan anak-anak mereka yang baru genap berusia tiga belas tahun. Karena tidak ada pencerahan akhirnya mereka berduapun pulang dengan tangan hampa. Raut muka kedua orang tua bocah ingusan itu kini sudah semakin cemas. Mereka tidak ingin melihat kenyataan anaknya ditemukan sudah tidak bernyawa atau dinyatakan hilang untuk sementara waktu, seperti yang ada di tivi-tivi belakangan ini. Banyak kasus penculikan anak, untuk di jadikan pengemis. Bayangan itu semakin di perparah kala ada orang yang secara sengaja menambahkan bumbu-bumbu tak sedap, seperti merica, bawang merah, bawang putih berlebihan.

    Suasana menjadi semakin runyam kala ada orang yang memberikan masukan untuk melaporkannya ke kantor polisi. Bahwasannya anak mereka berdua telah hilang. Membayangkan betapa ribetnya cara peloporan dan juga administrasi yang harus di lengkapi, usulan itupun di abaikan begitu saja. Di televisi chanel tv-one sering menyiarkan kalau ada orang hilang. Biasanya dilakukan secara live pagi hari. Tapi itu tidak akan berjalan mulus, karena dipikir untuk mencapai daerah bundaran HI pagi hari itu sangat sulit. Dan mereka juga berfikiran nggak bakalan mungkin ketemu, wong jalan Jakarta ajah tidak tahu sama sekali.

    Hari sudah mulai gelap, malampun sudah menunjukan seramnya. Lampu-lampu jalan menyoroti sebagian jalan, sementara cahaya lainnya menerpa dedaunan yang ada di sekelilingnya. Namun cahaya itu tidak berpihak pada mama arin dan ibu abrar yang sudah semakin resah dan gelisah, menunggu putra putri kebanggaan masyarakat komplek karena dia pernah jadi juara makan ketupat di acara agustusan kemarin. Kabar ini meluas seantero komplek, semua orang tau berkat laporan dari beberapa tukang becak yang keliling di sekitar komplek itu. Bak virus mematikan penyebarannya sudah sangat cepat, ini menjadi headlinenews. Mungkin kalau ada kantor berita di dekat koplek mereka langsung memuatnya dengan judul utama “Misteri Hilangnya Arin dan Abrar” atau mungkin surat kabar lain yang tidak mau ketinggalan berita terhangat ini akan menulis judul “Sebuah Misteri Dua Sahabat Sejati Hilang”. Dan penjualan Koran itu akan mendapatkan keuntungan yang sangat luar biasa. Karena seluruh warga komplek akan membelinya.

    Ibu-ibu komplek yang setiap harinya berkumpul untuk sekedar ngerumpi juga akhirnya ikut turun tangan, mengerahkan segala kemampuan, daya dan upaya untuk pencarian ini. Kalau ditelisik dari hilangnya arin dan abrar ini sudah seperti hilangnya pesawat MH370 Malaysia Airline yang hilang kontak saat melakukan penerbangan dari Malaysia ke Hongkong. Hilang dan tak pernah ada lagi kabarnya sampai saat ini. Kemungkinan bagianya sudah menjadi puing-puing yang berterbangan di laut lepas Antartika, atau mungkin juga sudah sampai kutub utara.

    Tapi hal itu tidak mungkin terjadi pada arin dan abrar, sahabat sejati yang tak pernah lupa diri, tidak sombong dan sayang orang tua. Tidak mungkin seorang anak kecil yang baru akan duduk di kelas dua SMP pergi sampai Antartika ataupun main-main sampai ke kutub utara. Padahal mereka tidak menggunakan perlengkapan penuh. Tidak pakai jaket musim salju, tidak bawa penghangat badan, kayak minyak telon dan minyak angin cak kapak, ataupun membawa anjing yang siap membantu mereka saat kesusahan.

    Keputusasaanpun menghampiri semua warga komplek, terlebih kedua orang tuanya. Seorang paranormal yang menjadi andalan komplek juga di terjunkan langsung dari atas genteng. Dia terkena sedikit benturan saat melakukan penerjunannya. Darah segar mengalir dari pelipis kanannya. Oh ternyata dia bukan paranormal yang sedang ditunggu, melaikan mang jui, tukang urut tuna netra yang kesandung batu dan jatuh dari atas atap rumah mama arin, karena salah perkiraan jalan. Seharusnya jalan raya yang dilewati dia malah menyusuri jalan kucing di atas atap-atap rumah orang.

    Dari beberapa benda yang dia bawa ada beberapa benda yang dicurigai oleh beberapa orang. Setelah di buka ternyata itu adalah HP, TAB, Laptop, Dompet, dan beberpa kotak perhiasan. Kelengangan warga yang sedang mencari arin dan abrar ternyata diendus oleh mang jui yang langsung melakukan aksinya untuk mencuri. Ternyata selama ini kacamata hitam dan tongkat kayunya itu hanyalah alat untuk mengelabuhi orang-orang supaya tidak ketahuan, bahwasannya dia sedang mengincar beberapa barang-barang milik warga. Dia juga sangat leluasa untuk mengintai beberapa rumah. Karena dia sering diajak masuk untuk menguruti orang. Dia dibawa ke dalam rumah, disuruh mijit. Tapi mungkin karena kelihaiannya itu mang jui bisa menyiasati, bagian-bagian mana saja yang bisa dilakukan untuk beraksi nantinya.

    Kerumunan wargapun semakin banyak kala pencuri yang tidak sengaja ditemukan itu di hakimi oleh warga. Matanya yang pura-pura buta menjadi buta beneran. Karena bogem mentah dari warga tak henti-hentinya mendarat di mata mang jui. Sumpah serapah dari para warga menjadi-jadi. Kata-kata keji dan terhina keluar dari mulut mereka. Sejenak arin dan abrar dilupakan! Warga mengarak pencuri yang tertangkap basah itu ke balai desa setempat. Padahal kalau dipikir lagi secara benar, antara balai desa dan kantor polisi jaraknya lebih dekat kantor polisi, tapi kenapa warga malah mengaraknya kesana. Hal yang membingungkan sesuatu yang perlu dipertanyakan lebih lanjut. Arin dan abrar lagi-lagi sudah dilupakan! Kini Koran-koran komplek berubah judul “Seorang tuna netra babak belur karena kedapatan mencuri”, dari koran yang lain juga tak mau kalah menerbitkan koran dengan judul “Pura-pura jadi tukang pijit, mang jui malah ngutil barang pelanggan, babak belur deh di hakimi warga”. Kedua Koran komplek itu saling beradu bahasa untuk menarik pelanggan.


    Waktu sudah mulai larut, para warga masih sibuk dengan arak-arakan pencuri yang dihakimi tadi. Mereka membicarakannya sepanjang malam. Di beberapa pos ronda kini akhirnya banyak orang yang dengan sukarela untuk berjaga, membantu tugas hansip yang personilnya sangat terbatas. Karena pencuri dengan kedok seperti ini sudah sangat meresahkan warga. Banyak kejadian-kejadian seperti ini yang sangat sulit untuk diurai perkaranya. Bahkan mungkin butuh detektif atau agen CIA sekalipun untuk mencari tau siapa dalang dari semua ini. Lagi-lagi arin dan abrar sudah benar-benar di lupakan oleh warga!! Padahal urusannya lebih penting dari sekedar membicarakan pencuri yang tertangkap tidak sengaja itu. (Ceritanya Bersambung dulu yah capek!)

    Aku mempunyai pacar cantik, manis, berkulit kuning langsat, dan berpenampilan sangat menarik, namanya nadia. Wanita cantik yang bisa membuat mata lelaki bisa memalingkan pandangannya dari wanita-wanitanya. Tatapannya yang tajam, lirikannya yang menawan, dan senyumnya yang indah itu bisa menggoyahkan kesetiaan laki-laki pada perempuannya. Dia seorang mahasiswi semester terakhir di Unpad bandung di fakultas Ekonomi. Dia kuliah dijurusan Bisnis Internasional. Aku mengenal dia lewat jejaring sosial media. Selama pacaran kita lebih banyak menghabiskan waktunya lewat dunia maya. Walapun setiap waktu libur kita saling berkujung satu sama lain. Kadang aku ke bandung, tak jarang juga dia main ke bogor. Aku sendiri kuliah di Unpak Bogor ambil jurusan Teknik Informatika. 

    Aku dan Nadia sudah lama menjalin hubungan. Kita berkomitmen untuk saling setia, menghormati, menghargai, dan saling megerti satu sama lainnya. Karena keterbatasan waktu dan tempat untuk selalu bersama. Hampir tiap bulan aku main kebandung untuk bertemu nadia. Saking seringnya aku ke bandung aku banyak kenal dengan teman-teman nadia. Baik teman kampus, teman satu kosan maupun teman-teman nadia yang lain. Aku mengenal satu sama lain dari mereka. Kost Nadia di campur antara cowo dan cewe, itu memudahkan saat berkunjung ketempat nadia. Teman-teman satu kost nadia yang cowo juga aku kenal baik dengan mereka. Suatu hari aku di kenalkan dengan temannya yang bernama Adelia, kamar kostnya masih satu barisan dengan kamar kost nadia, terpaut dua kamar sebelah kanan. Dia kuliah di Unpad juga, di Fakultas Teknik Informatika. Jurusan yang sama denganku tentunya. Itu membuat aku langsung bisa berkomunikasi baik dengannya karena satu obrolan. Terlebih ternyata dia orang bogor juga, itu menambah kedekatan kita berdua. Adialia tidak kalah cantiknya dengan nadia, mojang Bogor berparas ayu dan menawan. Berpakaian modis dan staylist khas mojang-mojang priyangan. Mungkin karena sudah lama tinggal di bandung, cara berbusananyapun sudah tidak kalah dengan gadis-gadis bandung lainnya. Dari semenjak perkenalan itu aku dan adelia saling berkomunikasi semakin intensif, baik sebentar ataupun lama. Di saat aku main ke bandung kadang adelialah yang lebih sering menemaniku di kosan, saat nadia sedang banyak  kesibukan dan kegiatan kampus, terlebih dia sedang melakukan penelitian di kampusnya jadi memang waktunya sangat padat, mungkin nadia agar cepat-cepat menyelesaikan kuliahnya.

    Hubungan aku dan adelia semakin akrab dan dekat ketika kita jalan berdua di salah satu kesempatan. Karena saking lamanya menunggu nadia, akhirnya kita memutuskan untuk sekedar jalan-jalan ke sebuah mall di dekat kosan biar tidak bosan karena seharian cuma berdiam diri saja di kamar kosan, palingan keluar untuk mencari makan. Dari situlah awal kami mulai dekat dan akrab. Namun demikian kedekatan kita tak lebih dari sebatas teman karena sebelumnya kita sudah berkomitmen untuk tidak lebih dalam menjalin hubungan, selain itu juga adelia tidak mau merusak hubungan pertemanannya dengan nadia. Dia cukup menjadi teman baikku saja dan menjaga kepercayaan yang di berikan nadia karena membiarkan pacarnya ditemani seorang cewe cantik macam adelia. Kita berdua saling menjaga komitmen itu. Walau kadang komitmen yang kita buat itu akhirnya membelenggu kita berdua. Rasa yang tumbuh dalam hati mulai tak terbendung sangat menyiksa hati, namun janji harus di tepati. Kita menjalin hubungan pertemanan layaknya pacaran. Jalan berdua, makan malam berdua, nonton, dan berbagai macam aktifitas lain, kala nadia sibuk dengan kegiatan kampunya. Suatu ketika adelia tiba- tiba pulang ke bogor hanya untuk menemuiku, menurutnya saat itu dia sangat menginginkan bertemu denganku.

    Perjalanan cinta itu memang kadang aneh. Susah di mengerti, tidak mudah di pahami. Aku yang sudah memiliki pacar malah harus dekat dengan temannya yang membuatku jadi bimbang karena sebuah perjanjian. Hubungan aku dengan nadia tetap berjalan seperti biasanya, tak ada kecurigaan apapun tentang kedekatan aku dan adelia. Mungkin itu juga karena kita menjaganya sangat baik hubungan itu. 

    Setelah kelulusan nadia dia melanjutkan kuliahnya di luar negeri dia mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Kyoto University japan. Sementara itu adelia yang lulus dengan nilai sangat memuaskan itu mendapatkan beasiswa di luar negeri juga, Namun dia mendapatkannya di Universitas of Cambrigt Inggris. Semenjak kepergian mereka aku merasa kehilangan dan ingin segera mencari pengganti, karena jarak jauh seperti sangat susah untuk dijalani. Mungkin karena waktu keadaan akhirnya aku memutuskan untuk berpisah dengan nadia. Namun lain halnya dengan adelia walaupun kita jauh kita masih berhubungan, walau lewat dunia maya, tapi hal itu tak lebih hanyalah sebagai teman.  Kadang kita lebih sering sharing masalah-masalah yang berkaitan dengan mata kuliah yang kita dapati di kampus. Aku juga menjadi lebih banyak ilmu jika berkomukasi dengan adelia. Karena memang sudah dari sononya mungkin dia diciptakan menjadi wanita yang paham dan ahli dalam bidang informatika.

    Menjadi pria kesepian di setiap malam minggu membuatku sedikit kurang bersemangat, karena setiap kali ada kesempatan kumpul dengan teman-teman aku hanya jalan sendiri, tanpa seorang kekasih. Aku mulai mencari pengganti nadia. Bulan ini adalah awal masuk kuliah. Saatnya anak baru menjadi sasaran empuk para senior yang siap untuk OSPEK. Aku sebagai senior Cuma memantau saja, apa saja kegiatan yang dilakukan. Karena pihak kampus sudah mewanti-wanti agar kegiatan itu harus menjadi pembelajaran yang positif. Bukan malah menjadi ajang balas dendam atau membuly juniornya. Tujuanku satu mencari mahasiswi yang bisa aku jadikan pacar. Karena di fase ini setiap mahasiswi sedang mudah-mudahnya untuk di dekati. Karena aku sebagai senior bisa dengan mudah mendapatkan identitas, tanpa harus sudah payah mencarinya di dunia maya. Ada satu mahasiswi dari fakultas ekonomi yang aku incar, dia imut, lucu, dan menggemaskan. Berudung rapi, berkaca mata, dan rupanya dia sedikit pemalu. Tapi dari segi berbusana dia lumayan modis, ala-ala hijaber masa kini. 

    Perkuliahan barupun dimulai, aku mengajukan beberapa judul skripsiku. Wanita berudung yang aku perhatikan dari mulai dia ospek itu kini menjadi kekasih. Dengan mudah aku menaklukannya. Tanpa ikut campur tangan orang banyak, kesempatan untuk mengatakan perasaan aku itu terbuka lebar saat aku harus menjadi moderator di sebuah acara debat pemilihan raya Ketua BEM. Ternyata dia menjadi salah satu anggota didalamnya. Dia direkrut karena pengalamannya sewaktu ospek dulu. Dia menjadi mahasiswi teladan, yang dpilih secara prosentasi keaktifan, keseriusan dan kedisiplinnya dalam ospek.

    Aku yang mendapati dia sedang sibuk menyiapkan beberapa document mencoba untuk menyapa. Walau sedikit gengsi namun aku membaranikan diri untuk maju dan segera mungkin mengenal dia dan mengungkapakan perasaan aku padanya. 

    “itu apa aja”
    “dokumen buat nanti pemilihan raya kak”
    “oh…kamu tasya yah”
    “iyah…nama kakak Ignasius Hastomo yah”
    “iyah, kok kamu tau”
    “itu lihat di name tag nya, kan yang buat tasya”
    “Panggil aja, ius. Kayak yang lainnya”
    “ohh iyah kak ius”
    “ngomong-ngomong ada yang bisa aku bantuin nggak nih”
    “ohh nggak usah kak ius, udah selesai semua kok, tinggal pelaksanaan ajah”
    “yaudah kalau gitu, aku minta Pin BB kamu ajah kalau gitu”
    “buat apa?”

    Bingung sebentar…sambil merangkai kata-kata pas pas buat menjawabnya.

    “ya…buat ngubungin kamu, kalau aku pengin ketemu sama kamu”
    Kami terdiam….!!!

    Aku mulai sibuk dengan tugas akhir, ternyata tasya sangat pengertian, dia selalu menemaniku disaat aku sedang sibuk menjalankan aktifitas. Gadis berhijab warna pastel, yang kini menjadi kekasih baruku itu memberikan suasana baru dalam hidupku. Setiap hariku kini dilalui dengan indah. Kesibukan yang begitu padat juga tak terasa bagiku, karena ditemani dengan setia oleh tasya si gadis cantik yang ibadahnya nggak pernah ditinggalkan.

    Tasya terlihat modis walau menggunakan hijab, dia juga sangat cekatan. Mudah bergaul dan sangat mudah mendapatkan teman baru, mungkin dulu nya dia sangat sosialita di waktu SMA, jadi setelah masuk dunia kampuspun dia sangat cepat dikenal banyak orang. Itu terlihat dari gaya dia berbicara dan bergaul dengan teman-temannya. 

    Setelah berjuang keras untuk mempertahankan argument dihadapan penguji, akhirnya aku lulus kuliah dengan nilai yang memuaskan. Aku merayakannya keklulusanku dengan syukuran di rumah, bersama keluarga besar. Beberapa tetangga dan karabat dekat berkumpul. Tasya dan keluarganya juga hadir di  acara tersebut. Saat obrol-obrol dengan keluarga ada celetukan kapan kita menikah. Padahal tasya baru semester awal. Karena tidak ingin merusak suasana bahagia itu akhirnya diambil kesepakatan kedua belah pihak antara keluargaku dan keluarga tasya untuk menindak lanjuti obrolan tersebut di waktu dan acara yang berbeda. 

    Aku bekerja di sebuah perusahaan IT terkemuka di Jakarta yang markas pusatnya ada di Tokyo Jepang. Aku di percaya memegang kendali di bagian engineering. Dalam jangka waktu dua tahun banyak proyek-proyek besar yang di tangani oleh aku, itu mengakibatkan aku cepat mendapatkan posisi strategis di perusahaan itu. Untuk meningkatkan kemampuan, aku diberikan waktu untuk menuntut ilmu di luar negeri dengan status karyawan berprestasi dan mendapatkan beasiswa gratis, dengan catatan nantinya menjadi karyawan tetap dan kembali bekerja di perusahaan tersebut setelah selesai studi. Aku dikirim menjadi karyawan untuk wilayah perkembangan Asia-Afrika.

    Pertemuan antara kedua keluarga dilakukan. Dari pertemuan itu megahsilkan beberapa kesepakatan. Diantaranya aku dan tasya menikah setelah lulus kuliah. Biar kuliahnya tak tergganggu dan bisa tenang. Aku hanya mengikuti saja kemauan kedua keluarga itu, karena aku juga tidak ingin buru-buru menikah mengingat masih banyak yang ingin aku kerjakan. Apalagi tawaran dari kantor itu sudah harus aku putuskan akhir bulan nanti.

    Secara perlahan aku mulai membicarakan tentang tawaran dari perusahaan yang sudah hamper tiga bulan. Sedangkan waktu tinggal seminggu lagi untuk aku menjawab kesediaanya, kepada perusahaan. Setelah di diskusikan secara seirus dengan pihak keluarga dan tasya tentunnya akhinrya aku diperbolehkan untuk mengambil kesempatan berharga itu. Namun dengan catatan kita harus menikah segera sebelum pemberangkatanku ke jepang. Karena pihak keluarga tasya takut nantinya terjadi hal-hal yang diluar dugaan mengingat kedua keluarga sudah saling cocok. Aku hanya menuruti apa kata kedua belah pihak keluarga saja. 

    Sebulan setelah pernikahan aku langsung meninggalkan jakarta menuju ke tokyo jepang. Disana segala sesuatunya telah di sediakan, Mulai dari apartment, makan, pakaian, kuliah semua sudah di tanggung oleh perusahaan. Selama di jepang aku mencoba untuk menghubungi Nadia karena aku tau dia masih ada di Kyoto. Aku beberapa kali bertemu dengan nadia, ternyata dia sudah punya suami. Dia bekerja di perusahaan tempat suaminya bekerja, suaminya juga orang indonesia tapi sudah lama menetap di jepang. Dari hasil penelitianku di kampus ternyata aku harus mempresentasikan hasilnya  kepada seluruh karyawan yang bernaung di perusahaan aku bekerja, karena perusahaan itu global. Aku mempresentasikan hasil penelitianku di markas besar perusahaanku di kawasan Tokyo. Dari dua puluh peserta hanya aku wakil indonesia. Setelah presentasiku selesai aku terhenyak ada seorang wanita yang rupanya sudah tak asing, yaa..! dia adalah adelia. Ternyata dia juga bekerja di tempat yang sama, namun dia perwakilan dari London, Inggris. Untuk mengobati rasa kangen setelah lama berk\pisah aku habiskan waktu sebelum pulang ke Jakarta. Kita berdua jalan-jalan menyusuri jalan Tokyo hingga larut malam. Musim semi kala itu membawa kita dalam peraduan. Kita bernostalgia. Mengingat masa-masa dulu waktu masih di bandung. Bunga sakura bermekaran, cinta yang dulu ada kini kembali namun tak bisa bersama. Hati yang pernah hilang kini bertemu kembali namun hanya sebatas pertemanan.

    Aku kembali ke jakarta, walau rasanya ingin bersama adelia lebih lama namun aku telah memiliki tasya. Aku tidak ingin begitu saja meninggalkan tasya, gadis berhijab modern itu, si bidadari surge yang telah Tuhan gariskan untukku. Aku tidak ingin meninggalkannya tanpa sebab yang pasti. Aku dan adelia akhirnya berkomitmen untuk tetap menjaga perasaaan kita satu sama lain. Kita merubah komitmen itu dari teman tapi mesra menjadi orang yang tidak saling kenal. Cukup simpan dalam hati masing-masing kisah itu. Dan bila kita bertemu kembali, satu pintanya jangan tanyakan itu lagi, cukup simpan dalam hati. Padahal setiap tiga bulan sekali aku harus presentasi lagi ke seluruh anak cabang perusahaanku di seluruh dunia, dan salah satunya ada adelia di situ. Semenjak itu aku hanya kenal sebatas rekan kerja dan tim, tak lebih dari itu. Cinta memang ada, dan cinta memang dimiliki oleh semua orang, tapi cinta yang sempurna adalah cinta yang tanpa harus menyakiti. 

    The end


    Cintaku Bersemi Kembali di Tokyo

    Posted at  Wednesday, June 18, 2014  |  in  Nggak Enak Jadi Jomblo  |  Read More»

    Aku mempunyai pacar cantik, manis, berkulit kuning langsat, dan berpenampilan sangat menarik, namanya nadia. Wanita cantik yang bisa membuat mata lelaki bisa memalingkan pandangannya dari wanita-wanitanya. Tatapannya yang tajam, lirikannya yang menawan, dan senyumnya yang indah itu bisa menggoyahkan kesetiaan laki-laki pada perempuannya. Dia seorang mahasiswi semester terakhir di Unpad bandung di fakultas Ekonomi. Dia kuliah dijurusan Bisnis Internasional. Aku mengenal dia lewat jejaring sosial media. Selama pacaran kita lebih banyak menghabiskan waktunya lewat dunia maya. Walapun setiap waktu libur kita saling berkujung satu sama lain. Kadang aku ke bandung, tak jarang juga dia main ke bogor. Aku sendiri kuliah di Unpak Bogor ambil jurusan Teknik Informatika. 

    Aku dan Nadia sudah lama menjalin hubungan. Kita berkomitmen untuk saling setia, menghormati, menghargai, dan saling megerti satu sama lainnya. Karena keterbatasan waktu dan tempat untuk selalu bersama. Hampir tiap bulan aku main kebandung untuk bertemu nadia. Saking seringnya aku ke bandung aku banyak kenal dengan teman-teman nadia. Baik teman kampus, teman satu kosan maupun teman-teman nadia yang lain. Aku mengenal satu sama lain dari mereka. Kost Nadia di campur antara cowo dan cewe, itu memudahkan saat berkunjung ketempat nadia. Teman-teman satu kost nadia yang cowo juga aku kenal baik dengan mereka. Suatu hari aku di kenalkan dengan temannya yang bernama Adelia, kamar kostnya masih satu barisan dengan kamar kost nadia, terpaut dua kamar sebelah kanan. Dia kuliah di Unpad juga, di Fakultas Teknik Informatika. Jurusan yang sama denganku tentunya. Itu membuat aku langsung bisa berkomunikasi baik dengannya karena satu obrolan. Terlebih ternyata dia orang bogor juga, itu menambah kedekatan kita berdua. Adialia tidak kalah cantiknya dengan nadia, mojang Bogor berparas ayu dan menawan. Berpakaian modis dan staylist khas mojang-mojang priyangan. Mungkin karena sudah lama tinggal di bandung, cara berbusananyapun sudah tidak kalah dengan gadis-gadis bandung lainnya. Dari semenjak perkenalan itu aku dan adelia saling berkomunikasi semakin intensif, baik sebentar ataupun lama. Di saat aku main ke bandung kadang adelialah yang lebih sering menemaniku di kosan, saat nadia sedang banyak  kesibukan dan kegiatan kampus, terlebih dia sedang melakukan penelitian di kampusnya jadi memang waktunya sangat padat, mungkin nadia agar cepat-cepat menyelesaikan kuliahnya.

    Hubungan aku dan adelia semakin akrab dan dekat ketika kita jalan berdua di salah satu kesempatan. Karena saking lamanya menunggu nadia, akhirnya kita memutuskan untuk sekedar jalan-jalan ke sebuah mall di dekat kosan biar tidak bosan karena seharian cuma berdiam diri saja di kamar kosan, palingan keluar untuk mencari makan. Dari situlah awal kami mulai dekat dan akrab. Namun demikian kedekatan kita tak lebih dari sebatas teman karena sebelumnya kita sudah berkomitmen untuk tidak lebih dalam menjalin hubungan, selain itu juga adelia tidak mau merusak hubungan pertemanannya dengan nadia. Dia cukup menjadi teman baikku saja dan menjaga kepercayaan yang di berikan nadia karena membiarkan pacarnya ditemani seorang cewe cantik macam adelia. Kita berdua saling menjaga komitmen itu. Walau kadang komitmen yang kita buat itu akhirnya membelenggu kita berdua. Rasa yang tumbuh dalam hati mulai tak terbendung sangat menyiksa hati, namun janji harus di tepati. Kita menjalin hubungan pertemanan layaknya pacaran. Jalan berdua, makan malam berdua, nonton, dan berbagai macam aktifitas lain, kala nadia sibuk dengan kegiatan kampunya. Suatu ketika adelia tiba- tiba pulang ke bogor hanya untuk menemuiku, menurutnya saat itu dia sangat menginginkan bertemu denganku.

    Perjalanan cinta itu memang kadang aneh. Susah di mengerti, tidak mudah di pahami. Aku yang sudah memiliki pacar malah harus dekat dengan temannya yang membuatku jadi bimbang karena sebuah perjanjian. Hubungan aku dengan nadia tetap berjalan seperti biasanya, tak ada kecurigaan apapun tentang kedekatan aku dan adelia. Mungkin itu juga karena kita menjaganya sangat baik hubungan itu. 

    Setelah kelulusan nadia dia melanjutkan kuliahnya di luar negeri dia mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Kyoto University japan. Sementara itu adelia yang lulus dengan nilai sangat memuaskan itu mendapatkan beasiswa di luar negeri juga, Namun dia mendapatkannya di Universitas of Cambrigt Inggris. Semenjak kepergian mereka aku merasa kehilangan dan ingin segera mencari pengganti, karena jarak jauh seperti sangat susah untuk dijalani. Mungkin karena waktu keadaan akhirnya aku memutuskan untuk berpisah dengan nadia. Namun lain halnya dengan adelia walaupun kita jauh kita masih berhubungan, walau lewat dunia maya, tapi hal itu tak lebih hanyalah sebagai teman.  Kadang kita lebih sering sharing masalah-masalah yang berkaitan dengan mata kuliah yang kita dapati di kampus. Aku juga menjadi lebih banyak ilmu jika berkomukasi dengan adelia. Karena memang sudah dari sononya mungkin dia diciptakan menjadi wanita yang paham dan ahli dalam bidang informatika.

    Menjadi pria kesepian di setiap malam minggu membuatku sedikit kurang bersemangat, karena setiap kali ada kesempatan kumpul dengan teman-teman aku hanya jalan sendiri, tanpa seorang kekasih. Aku mulai mencari pengganti nadia. Bulan ini adalah awal masuk kuliah. Saatnya anak baru menjadi sasaran empuk para senior yang siap untuk OSPEK. Aku sebagai senior Cuma memantau saja, apa saja kegiatan yang dilakukan. Karena pihak kampus sudah mewanti-wanti agar kegiatan itu harus menjadi pembelajaran yang positif. Bukan malah menjadi ajang balas dendam atau membuly juniornya. Tujuanku satu mencari mahasiswi yang bisa aku jadikan pacar. Karena di fase ini setiap mahasiswi sedang mudah-mudahnya untuk di dekati. Karena aku sebagai senior bisa dengan mudah mendapatkan identitas, tanpa harus sudah payah mencarinya di dunia maya. Ada satu mahasiswi dari fakultas ekonomi yang aku incar, dia imut, lucu, dan menggemaskan. Berudung rapi, berkaca mata, dan rupanya dia sedikit pemalu. Tapi dari segi berbusana dia lumayan modis, ala-ala hijaber masa kini. 

    Perkuliahan barupun dimulai, aku mengajukan beberapa judul skripsiku. Wanita berudung yang aku perhatikan dari mulai dia ospek itu kini menjadi kekasih. Dengan mudah aku menaklukannya. Tanpa ikut campur tangan orang banyak, kesempatan untuk mengatakan perasaan aku itu terbuka lebar saat aku harus menjadi moderator di sebuah acara debat pemilihan raya Ketua BEM. Ternyata dia menjadi salah satu anggota didalamnya. Dia direkrut karena pengalamannya sewaktu ospek dulu. Dia menjadi mahasiswi teladan, yang dpilih secara prosentasi keaktifan, keseriusan dan kedisiplinnya dalam ospek.

    Aku yang mendapati dia sedang sibuk menyiapkan beberapa document mencoba untuk menyapa. Walau sedikit gengsi namun aku membaranikan diri untuk maju dan segera mungkin mengenal dia dan mengungkapakan perasaan aku padanya. 

    “itu apa aja”
    “dokumen buat nanti pemilihan raya kak”
    “oh…kamu tasya yah”
    “iyah…nama kakak Ignasius Hastomo yah”
    “iyah, kok kamu tau”
    “itu lihat di name tag nya, kan yang buat tasya”
    “Panggil aja, ius. Kayak yang lainnya”
    “ohh iyah kak ius”
    “ngomong-ngomong ada yang bisa aku bantuin nggak nih”
    “ohh nggak usah kak ius, udah selesai semua kok, tinggal pelaksanaan ajah”
    “yaudah kalau gitu, aku minta Pin BB kamu ajah kalau gitu”
    “buat apa?”

    Bingung sebentar…sambil merangkai kata-kata pas pas buat menjawabnya.

    “ya…buat ngubungin kamu, kalau aku pengin ketemu sama kamu”
    Kami terdiam….!!!

    Aku mulai sibuk dengan tugas akhir, ternyata tasya sangat pengertian, dia selalu menemaniku disaat aku sedang sibuk menjalankan aktifitas. Gadis berhijab warna pastel, yang kini menjadi kekasih baruku itu memberikan suasana baru dalam hidupku. Setiap hariku kini dilalui dengan indah. Kesibukan yang begitu padat juga tak terasa bagiku, karena ditemani dengan setia oleh tasya si gadis cantik yang ibadahnya nggak pernah ditinggalkan.

    Tasya terlihat modis walau menggunakan hijab, dia juga sangat cekatan. Mudah bergaul dan sangat mudah mendapatkan teman baru, mungkin dulu nya dia sangat sosialita di waktu SMA, jadi setelah masuk dunia kampuspun dia sangat cepat dikenal banyak orang. Itu terlihat dari gaya dia berbicara dan bergaul dengan teman-temannya. 

    Setelah berjuang keras untuk mempertahankan argument dihadapan penguji, akhirnya aku lulus kuliah dengan nilai yang memuaskan. Aku merayakannya keklulusanku dengan syukuran di rumah, bersama keluarga besar. Beberapa tetangga dan karabat dekat berkumpul. Tasya dan keluarganya juga hadir di  acara tersebut. Saat obrol-obrol dengan keluarga ada celetukan kapan kita menikah. Padahal tasya baru semester awal. Karena tidak ingin merusak suasana bahagia itu akhirnya diambil kesepakatan kedua belah pihak antara keluargaku dan keluarga tasya untuk menindak lanjuti obrolan tersebut di waktu dan acara yang berbeda. 

    Aku bekerja di sebuah perusahaan IT terkemuka di Jakarta yang markas pusatnya ada di Tokyo Jepang. Aku di percaya memegang kendali di bagian engineering. Dalam jangka waktu dua tahun banyak proyek-proyek besar yang di tangani oleh aku, itu mengakibatkan aku cepat mendapatkan posisi strategis di perusahaan itu. Untuk meningkatkan kemampuan, aku diberikan waktu untuk menuntut ilmu di luar negeri dengan status karyawan berprestasi dan mendapatkan beasiswa gratis, dengan catatan nantinya menjadi karyawan tetap dan kembali bekerja di perusahaan tersebut setelah selesai studi. Aku dikirim menjadi karyawan untuk wilayah perkembangan Asia-Afrika.

    Pertemuan antara kedua keluarga dilakukan. Dari pertemuan itu megahsilkan beberapa kesepakatan. Diantaranya aku dan tasya menikah setelah lulus kuliah. Biar kuliahnya tak tergganggu dan bisa tenang. Aku hanya mengikuti saja kemauan kedua keluarga itu, karena aku juga tidak ingin buru-buru menikah mengingat masih banyak yang ingin aku kerjakan. Apalagi tawaran dari kantor itu sudah harus aku putuskan akhir bulan nanti.

    Secara perlahan aku mulai membicarakan tentang tawaran dari perusahaan yang sudah hamper tiga bulan. Sedangkan waktu tinggal seminggu lagi untuk aku menjawab kesediaanya, kepada perusahaan. Setelah di diskusikan secara seirus dengan pihak keluarga dan tasya tentunnya akhinrya aku diperbolehkan untuk mengambil kesempatan berharga itu. Namun dengan catatan kita harus menikah segera sebelum pemberangkatanku ke jepang. Karena pihak keluarga tasya takut nantinya terjadi hal-hal yang diluar dugaan mengingat kedua keluarga sudah saling cocok. Aku hanya menuruti apa kata kedua belah pihak keluarga saja. 

    Sebulan setelah pernikahan aku langsung meninggalkan jakarta menuju ke tokyo jepang. Disana segala sesuatunya telah di sediakan, Mulai dari apartment, makan, pakaian, kuliah semua sudah di tanggung oleh perusahaan. Selama di jepang aku mencoba untuk menghubungi Nadia karena aku tau dia masih ada di Kyoto. Aku beberapa kali bertemu dengan nadia, ternyata dia sudah punya suami. Dia bekerja di perusahaan tempat suaminya bekerja, suaminya juga orang indonesia tapi sudah lama menetap di jepang. Dari hasil penelitianku di kampus ternyata aku harus mempresentasikan hasilnya  kepada seluruh karyawan yang bernaung di perusahaan aku bekerja, karena perusahaan itu global. Aku mempresentasikan hasil penelitianku di markas besar perusahaanku di kawasan Tokyo. Dari dua puluh peserta hanya aku wakil indonesia. Setelah presentasiku selesai aku terhenyak ada seorang wanita yang rupanya sudah tak asing, yaa..! dia adalah adelia. Ternyata dia juga bekerja di tempat yang sama, namun dia perwakilan dari London, Inggris. Untuk mengobati rasa kangen setelah lama berk\pisah aku habiskan waktu sebelum pulang ke Jakarta. Kita berdua jalan-jalan menyusuri jalan Tokyo hingga larut malam. Musim semi kala itu membawa kita dalam peraduan. Kita bernostalgia. Mengingat masa-masa dulu waktu masih di bandung. Bunga sakura bermekaran, cinta yang dulu ada kini kembali namun tak bisa bersama. Hati yang pernah hilang kini bertemu kembali namun hanya sebatas pertemanan.

    Aku kembali ke jakarta, walau rasanya ingin bersama adelia lebih lama namun aku telah memiliki tasya. Aku tidak ingin begitu saja meninggalkan tasya, gadis berhijab modern itu, si bidadari surge yang telah Tuhan gariskan untukku. Aku tidak ingin meninggalkannya tanpa sebab yang pasti. Aku dan adelia akhirnya berkomitmen untuk tetap menjaga perasaaan kita satu sama lain. Kita merubah komitmen itu dari teman tapi mesra menjadi orang yang tidak saling kenal. Cukup simpan dalam hati masing-masing kisah itu. Dan bila kita bertemu kembali, satu pintanya jangan tanyakan itu lagi, cukup simpan dalam hati. Padahal setiap tiga bulan sekali aku harus presentasi lagi ke seluruh anak cabang perusahaanku di seluruh dunia, dan salah satunya ada adelia di situ. Semenjak itu aku hanya kenal sebatas rekan kerja dan tim, tak lebih dari itu. Cinta memang ada, dan cinta memang dimiliki oleh semua orang, tapi cinta yang sempurna adalah cinta yang tanpa harus menyakiti. 

    The end


    Tuesday, June 10, 2014

    Tangannya yang lentik, mukanya yang merah merona, kulitnya yang putih bersih itu membuatku tak bisa berpaling dari pandangan untuk menatapinya sepanjang hari. Aku terdiam, gugup, dan hampir mati saat dia memberikanku salam. Aku tersipu malu saat dia membiarkan pandangan mata indah itu bertemu. Aku terbang melayang menembus langit ketujuh dibuatnya, senyumannya merangsang keseluruh urat syarafku. Aku tidak bisa membiarkan rasa yang begitu hebat itu berdiam diri dalam benaku, ingin kusingkirkan jauh dari khayalanku. Tapi nampaknya aku telalu bodoh untuk itu. Menjadi pendamba wanita yang sejatinya hanya impian yang terlihat nyata. Aku berdiri dan lari mencari sesuatu yang mungkin bisa bungkam keinginanku itu, namun aku tak sanggup demi menjaga perasaan ini tetap utuh. Jiwaku melayang, terbang, bersama bidadari penghuni surgawi. Menyambut malam, menertawakan bintang, mendoakan malam agar tetap malam, dan tak pernah ada siang, agar aku bisa tetap bermimpi indah dengannya. Atau mengutuk siang demi terjaganya hari, agar aku tetap bisa memandangi lentiknya jari jemari nan indah itu.

    "Selamat pagi"
    "Pagii.." jawab wanita berparas rupawan, dengan senyum mengembang.

    Dia adalah bidadari yang aku temui dikala siang, yang setiap waktu bisa aku lihat dengan menyamar sebagai laki-laki bodoh, yang tak pernah tahu akan cinta dan perasaan. Atau menjadi laki-laki idiot yang tak pernah bisa menyatakan perasaan penyiksa batin itu. Aku hanya bisa menjadi kerangka kosong tak mempunyai otak dan fikiran, karena hanya melihat dan memandangi perempuan yang sejatinya hanyalah manusia biasa. Ciptaan tuhan yang diberikan keindahan dengan wewangian di sekelilingnya. Aku kadang terbenan dalam sunyi, dan hilang dalam kesepian. Jiwa yang sunyi, hati yang sepi. Aku mendambamu wahai wanita yang memiliki paras nan rupawan itu.

    "Hai..."
    "Hai..." Senyumnya mengembang, keramahannya meluluhkan hatiku.

    Andaikan aku bisa lebih banyak bicara dengan wanita cantik dengan tangan lentik untuk mengenalnya lebih jauh, ketimbang aku hanya bisa menyapa dan mengkhayalkan saja, mungkin kiranya itu lebih baik dan aku tidak seperti orang bego. Namun aku hanyalah pemimpi bodoh yang terus tenggelam dalam lamunan. Dimataku inilah cinta, inilah kasih sayang. Mungkin bagiku ini cukup, bahkan sudah lebih dari cukup untuk mengungkapkan perasaan ku itu pada sosok yang menjadi lamunanku.

    "Hai, nama kamu siapa, aku Gian. Pasti udah tahu kan, toh ada name tagnya. Boleh nggak aku minta pin BB kamu, soalnya setiap aku lihat kamu pasti lagi mainin BB. Hmm ngomong-ngomong malam minggu ini ada acara gak, mau gak kalau aku ajak jalan, ada film baru yang seru loh"

    Aku coba menghafalkan perkataan itu berulang-ulang kali di depan cermin, hampir sudah ribuan kali. Tapi begitu aku ketemu dengan orangnnya aku selalu gagal dan bodoh dengan sendirinya. Aku gagu dan gagap, tidak bisa mengeluarkan kata-kata itu. Aku kikuk di buatnya. Apalah artinya hafalanku yang sudah kuhafalkan sampai mulutku berbisa itu, tapi tak berguna didepannya. Aku merasa sangat payah sebagai laki-laki. Di saat orang-orang diluaran sana dengan seenaknya mendapatkan perempuan, dan meninggalkannya juga dengan seenaknya. Aku malah masih susah untuk berbicara jujur kepada wanita yang rambutnya berombak itu.

    Hatiku semakin gundah gulanah tatkala ada laki-laki dengan sengaja mendekati dia, atau sekedar bercengkrama dengannya. Hatiku hancur berkeping saat melihat dia jalan dengan laki-laki yang mungkin dengan mudah mengucapkan kata-kata manis didepannya, dan dia langsung kepincut karena rayuanya. Aku ingin teriak saat ada laki-laki yang setiap pagi mengantarnya ke kantor, dan menjemputnya kala pulang kantor. Bahkan mau menunggunya di depan loby kantor saat dia lembur. Hatiku remuk dan rasanya ingin mati kala aku melihat di wall facebooknya berganti status dari lajang menjadi tunangan. 

    "Mati saja aku, dari pada hidup hanya menunggu ketidakpastian. Aku hanya diam kala semua itu terjadi begitu saja di depan kehidupanku" Gumamku dalam hati yang teramat dalam.

    Status facebooknyapun sekarang berganti lagi dari tunangan menjadi menikah. Di kantor tersebar undangan, berwarna merah berpita keemasan. Undangan itu bertulisankan namanya yang bergelar Sarjana Ekonomi, dan sang suami bergelar Master managemen. Aku menunduk lesu dan merasa tak ada harapan lagi, untuk bisa melihat jari jemari nan lentik itu. Jari yang lentik, yang bisa kupegang dengan sepenuh hati, aku kecup dengan penuh rasa cinta, aku sentuh dengan perasaan sayang yang paling dalam. Itu semua sudah berlalu, khanyalanku sudah hilang dan terbang bersama bintang gemintang yang berhamburan di langit luas sana.

    "Hai, nama kamu siapa, aku Gian. Pasti udah tahu kan, toh ada name tagnya. Boleh nggak aku minta pin BB kamu, soalnya setiap aku lihat kamu pasti lagi mainin BB. Hmm ngomong-ngomong malam minggu ini ada acara gak, mau gak kalau aku ajak jalan, ada film baru yang seru loh" tanyaku penuh dengan kepercayaan diri yang tinggi.

    Wanita itu tersimpu malu, tercengang kaget, dan sedikit shok.

    "Gila kamu yah, aku kan sudah punya suami, mau taruh dimana mukaku kalau sampai suamiku tau, ada orang yang begitu lancangnya megatakan itu padaku" Plakkkk...! tamparan itu mendarat persis dipipiku.

    Hatiku goyah, marah, dan merasa sangat bodoh, bego dan tolol. Aku khilaf, aku salah seharusnya ini tak boleh terjadi. Sungguh ini sebuah kesalahan besar yang pernah aku lakukan. Tindakan yang sudah diluar kewajaran. Hal gila yang tak pernah dipikirkan oleh semua orang.

    Dosaku takan terampuni. Mungkin kesalahanku itu bisa membawa petaka untukku. Kesedihanku semakin panjang, aku akan mati sia-sia dan dibiarkan membusuk dalam kepedihan cinta yang teramat panjang. Aku menunggu mati, hingga maut mencabut nyawaku. Sampai semuanya sirna dalam hidupku. Aku hanyalah laki-laki tuna cinta. Laki-laki bisu yang tak bisa mengungkapkan perasaan cinta. Semakin dalam perasaan itu, semakin hilang semua harapanku. 

    "Maafkan aku yah, mungkin tidak seharusnya aku mempermalukanmu seperti waktu itu" Seru wanita berparas cantik yang mendaratkan tamparannya di pipiku, beberapa tahun lalu di depan loby kantorku.

    Aku heran, aku tak percaya. Kenapa dia berubah seperti itu. Dia berbalik arah seratus delapan puluh derajat. Perkiraanku yang akan mati sia-sia itu kembali. Aku hanya mengelus dada dan bersabar. Aku hanya tersenyum manis. Tentunya aku dengan besar hati memaafkan dia. Karena itu adalah kesalahanku, bukan dia. Memang imbalan yang pantas untukku.

    Ping…! Dan ada satu pesan masuk di BBM ku, yang dikirimkan nina wanita yang rambut berombak, tatapan matanya yang tajam, dan jari jemari yang lentik. "kamu lagi apa, malem ini ada acara gak! aku punya dua tiket Konser Tulus nih di Summarecon Mall Serpong, Kalau mau nanti jam tujuh malem, jemput aku yah di rumahku".

    Aku langsung bergegas menyiapkan segala sesuatunya, aku ingin tampil maksimal. Aku keluarkan semua koleksi baju, sepatu, aksesoris terbaik yang aku miliki. Mana yang kiranya cocok untuk aku pakai nanti malam, saat menggandeng dia, wanita cantik yang terpendam dalam, sangat dalam di relung hatiku. Wanita yang aku idam-idamkan. Wanita yang bisa setiap saat aku memeluknya saat bertemu, membelai jemarinya yang lentik itu saat sedang duduk berdua, atau sedikit kecupan manja di bibirnya. 

    Malampun tiba, aku menjemputnya di depan rumahnya. Aku merasa sangat bahagia. Aku percaya diri. Aku pede akhirnya bisa tercapai semua khayalanku. Akhirnya aku bisa bersama wanita yang indah di pandang saat sedang melakukan apapun. Wanita berpenampilan elegan, penuh pesona dan sangat istimewa. Walapun kini sudah berumur hampir tiga puluh dua tahun, dan berstatus janda dengan satu orang anak, tapi dia tetap telihat cantik dan rupawan. 

    Dia mengenakan baju yang feminim, bersepatu hak tinggi, sepatunya sepadan dengan baju yang di kenakan, tatanan ramput rapi, menambah kesan keanggunan. Bermake-up sedang tanpa banyak polesan dia sudah terlihat begitu sempurna. Di tambah dengan aksesoris yang pas dikenakan dengan padanan yang sangat sempurna, menambah kesan dia adalah wanita yang fashionable. 

    Aku menunggu momen ini begitu lama. Hapir sepuluh tahun lamanya, kesengsaraan hidupku menanti cinta. Menunggu datangnya bidadari yang menyapaku dengan senyuman indah, dan menyalamiku dengan ucapan sayang. Saat ini aku bahagia, bisa hidup layaknya laki-laki normal. Walaupun sekian lama itu aku hanyalah manusia bodoh yang merindukan bidadari jatuh dari kahyangan.

    Malam panjang itupun tak aku sia-siakan untuk melakukan hal-hal bodoh. Aku benar-benar ingin membuatnya bahagia. Aku benar-benar ingin menjadikan dia wanita satu-satu dimuka bumi ini yang paling bahagia. 

    Acara malam itupun begitu romantis, alunan lagu-lagu dari penyanyi Tulus membawa aku dalam sebuah nostalgia cinta. Aku berdua kasmaran, merasa nyaman dan tenang bisa berduaan seperti ini. Menyaksikan melodi cinta. Berjoget bersama, menyanyi bersama, teriak-teriak mengeluk-elukan sang artis. Aku bahagia bisa melakukan itu dengannya. Hal yang dulunya hanya khayalan belaka, mimpi semata. Yang mustahil akan pernah terjadi eperti malam ini. Tapi inilah kekuatan cinta. Cinta yang penuh dengan rasa cinta, sayang yang penuh dengan romansa kasih sayang. Aku terbuai dalam alunannya, mengalir merdu dan syahdu di telingaku. 

    "Mau kah kau menikah denganku" Aku menutup malam itu dengan ungkapan perasaan yang dalam, dengan menyodorkan cincin kepadanya, sebelum dia turun dan meninggalkan mobilku.

    "Iyah, aku mau menikah denganmu" tangannyapun bersaut, menuntun aku untuk memasangkan di cari manisnya. Sebuah kecupan manis mendarat di keningku. Ciuman cintapun bersarang di bibirku. Aku kikuk, aku terbang melayang menembus nirwana. Seakan khayangan milik kita berdua. Langit gelap yang dipenuhi taburan bintang-bintang  menjadi saksinya. Cincin permata itu jadi kuncinya. Cintaku akhirnya bisa menjadi kenyataan dalam hembusan angin keabadian, yang takan pernah lekang oleh zaman. Hingga sampai akhir khayat dunia ini kita akan selalu bersama. Cinta yang abadi untuk selama-lamanya. Cintaku cinta yang tak lekang oleh waktu. (/rdl)

    Lippo karawaci, 10 juni 2014

    Cintaku, cinta yang tak lekang oleh waktu

    Posted at  Tuesday, June 10, 2014  |  in  Nggak Enak Jadi Jomblo  |  Read More»

    Tangannya yang lentik, mukanya yang merah merona, kulitnya yang putih bersih itu membuatku tak bisa berpaling dari pandangan untuk menatapinya sepanjang hari. Aku terdiam, gugup, dan hampir mati saat dia memberikanku salam. Aku tersipu malu saat dia membiarkan pandangan mata indah itu bertemu. Aku terbang melayang menembus langit ketujuh dibuatnya, senyumannya merangsang keseluruh urat syarafku. Aku tidak bisa membiarkan rasa yang begitu hebat itu berdiam diri dalam benaku, ingin kusingkirkan jauh dari khayalanku. Tapi nampaknya aku telalu bodoh untuk itu. Menjadi pendamba wanita yang sejatinya hanya impian yang terlihat nyata. Aku berdiri dan lari mencari sesuatu yang mungkin bisa bungkam keinginanku itu, namun aku tak sanggup demi menjaga perasaan ini tetap utuh. Jiwaku melayang, terbang, bersama bidadari penghuni surgawi. Menyambut malam, menertawakan bintang, mendoakan malam agar tetap malam, dan tak pernah ada siang, agar aku bisa tetap bermimpi indah dengannya. Atau mengutuk siang demi terjaganya hari, agar aku tetap bisa memandangi lentiknya jari jemari nan indah itu.

    "Selamat pagi"
    "Pagii.." jawab wanita berparas rupawan, dengan senyum mengembang.

    Dia adalah bidadari yang aku temui dikala siang, yang setiap waktu bisa aku lihat dengan menyamar sebagai laki-laki bodoh, yang tak pernah tahu akan cinta dan perasaan. Atau menjadi laki-laki idiot yang tak pernah bisa menyatakan perasaan penyiksa batin itu. Aku hanya bisa menjadi kerangka kosong tak mempunyai otak dan fikiran, karena hanya melihat dan memandangi perempuan yang sejatinya hanyalah manusia biasa. Ciptaan tuhan yang diberikan keindahan dengan wewangian di sekelilingnya. Aku kadang terbenan dalam sunyi, dan hilang dalam kesepian. Jiwa yang sunyi, hati yang sepi. Aku mendambamu wahai wanita yang memiliki paras nan rupawan itu.

    "Hai..."
    "Hai..." Senyumnya mengembang, keramahannya meluluhkan hatiku.

    Andaikan aku bisa lebih banyak bicara dengan wanita cantik dengan tangan lentik untuk mengenalnya lebih jauh, ketimbang aku hanya bisa menyapa dan mengkhayalkan saja, mungkin kiranya itu lebih baik dan aku tidak seperti orang bego. Namun aku hanyalah pemimpi bodoh yang terus tenggelam dalam lamunan. Dimataku inilah cinta, inilah kasih sayang. Mungkin bagiku ini cukup, bahkan sudah lebih dari cukup untuk mengungkapkan perasaan ku itu pada sosok yang menjadi lamunanku.

    "Hai, nama kamu siapa, aku Gian. Pasti udah tahu kan, toh ada name tagnya. Boleh nggak aku minta pin BB kamu, soalnya setiap aku lihat kamu pasti lagi mainin BB. Hmm ngomong-ngomong malam minggu ini ada acara gak, mau gak kalau aku ajak jalan, ada film baru yang seru loh"

    Aku coba menghafalkan perkataan itu berulang-ulang kali di depan cermin, hampir sudah ribuan kali. Tapi begitu aku ketemu dengan orangnnya aku selalu gagal dan bodoh dengan sendirinya. Aku gagu dan gagap, tidak bisa mengeluarkan kata-kata itu. Aku kikuk di buatnya. Apalah artinya hafalanku yang sudah kuhafalkan sampai mulutku berbisa itu, tapi tak berguna didepannya. Aku merasa sangat payah sebagai laki-laki. Di saat orang-orang diluaran sana dengan seenaknya mendapatkan perempuan, dan meninggalkannya juga dengan seenaknya. Aku malah masih susah untuk berbicara jujur kepada wanita yang rambutnya berombak itu.

    Hatiku semakin gundah gulanah tatkala ada laki-laki dengan sengaja mendekati dia, atau sekedar bercengkrama dengannya. Hatiku hancur berkeping saat melihat dia jalan dengan laki-laki yang mungkin dengan mudah mengucapkan kata-kata manis didepannya, dan dia langsung kepincut karena rayuanya. Aku ingin teriak saat ada laki-laki yang setiap pagi mengantarnya ke kantor, dan menjemputnya kala pulang kantor. Bahkan mau menunggunya di depan loby kantor saat dia lembur. Hatiku remuk dan rasanya ingin mati kala aku melihat di wall facebooknya berganti status dari lajang menjadi tunangan. 

    "Mati saja aku, dari pada hidup hanya menunggu ketidakpastian. Aku hanya diam kala semua itu terjadi begitu saja di depan kehidupanku" Gumamku dalam hati yang teramat dalam.

    Status facebooknyapun sekarang berganti lagi dari tunangan menjadi menikah. Di kantor tersebar undangan, berwarna merah berpita keemasan. Undangan itu bertulisankan namanya yang bergelar Sarjana Ekonomi, dan sang suami bergelar Master managemen. Aku menunduk lesu dan merasa tak ada harapan lagi, untuk bisa melihat jari jemari nan lentik itu. Jari yang lentik, yang bisa kupegang dengan sepenuh hati, aku kecup dengan penuh rasa cinta, aku sentuh dengan perasaan sayang yang paling dalam. Itu semua sudah berlalu, khanyalanku sudah hilang dan terbang bersama bintang gemintang yang berhamburan di langit luas sana.

    "Hai, nama kamu siapa, aku Gian. Pasti udah tahu kan, toh ada name tagnya. Boleh nggak aku minta pin BB kamu, soalnya setiap aku lihat kamu pasti lagi mainin BB. Hmm ngomong-ngomong malam minggu ini ada acara gak, mau gak kalau aku ajak jalan, ada film baru yang seru loh" tanyaku penuh dengan kepercayaan diri yang tinggi.

    Wanita itu tersimpu malu, tercengang kaget, dan sedikit shok.

    "Gila kamu yah, aku kan sudah punya suami, mau taruh dimana mukaku kalau sampai suamiku tau, ada orang yang begitu lancangnya megatakan itu padaku" Plakkkk...! tamparan itu mendarat persis dipipiku.

    Hatiku goyah, marah, dan merasa sangat bodoh, bego dan tolol. Aku khilaf, aku salah seharusnya ini tak boleh terjadi. Sungguh ini sebuah kesalahan besar yang pernah aku lakukan. Tindakan yang sudah diluar kewajaran. Hal gila yang tak pernah dipikirkan oleh semua orang.

    Dosaku takan terampuni. Mungkin kesalahanku itu bisa membawa petaka untukku. Kesedihanku semakin panjang, aku akan mati sia-sia dan dibiarkan membusuk dalam kepedihan cinta yang teramat panjang. Aku menunggu mati, hingga maut mencabut nyawaku. Sampai semuanya sirna dalam hidupku. Aku hanyalah laki-laki tuna cinta. Laki-laki bisu yang tak bisa mengungkapkan perasaan cinta. Semakin dalam perasaan itu, semakin hilang semua harapanku. 

    "Maafkan aku yah, mungkin tidak seharusnya aku mempermalukanmu seperti waktu itu" Seru wanita berparas cantik yang mendaratkan tamparannya di pipiku, beberapa tahun lalu di depan loby kantorku.

    Aku heran, aku tak percaya. Kenapa dia berubah seperti itu. Dia berbalik arah seratus delapan puluh derajat. Perkiraanku yang akan mati sia-sia itu kembali. Aku hanya mengelus dada dan bersabar. Aku hanya tersenyum manis. Tentunya aku dengan besar hati memaafkan dia. Karena itu adalah kesalahanku, bukan dia. Memang imbalan yang pantas untukku.

    Ping…! Dan ada satu pesan masuk di BBM ku, yang dikirimkan nina wanita yang rambut berombak, tatapan matanya yang tajam, dan jari jemari yang lentik. "kamu lagi apa, malem ini ada acara gak! aku punya dua tiket Konser Tulus nih di Summarecon Mall Serpong, Kalau mau nanti jam tujuh malem, jemput aku yah di rumahku".

    Aku langsung bergegas menyiapkan segala sesuatunya, aku ingin tampil maksimal. Aku keluarkan semua koleksi baju, sepatu, aksesoris terbaik yang aku miliki. Mana yang kiranya cocok untuk aku pakai nanti malam, saat menggandeng dia, wanita cantik yang terpendam dalam, sangat dalam di relung hatiku. Wanita yang aku idam-idamkan. Wanita yang bisa setiap saat aku memeluknya saat bertemu, membelai jemarinya yang lentik itu saat sedang duduk berdua, atau sedikit kecupan manja di bibirnya. 

    Malampun tiba, aku menjemputnya di depan rumahnya. Aku merasa sangat bahagia. Aku percaya diri. Aku pede akhirnya bisa tercapai semua khayalanku. Akhirnya aku bisa bersama wanita yang indah di pandang saat sedang melakukan apapun. Wanita berpenampilan elegan, penuh pesona dan sangat istimewa. Walapun kini sudah berumur hampir tiga puluh dua tahun, dan berstatus janda dengan satu orang anak, tapi dia tetap telihat cantik dan rupawan. 

    Dia mengenakan baju yang feminim, bersepatu hak tinggi, sepatunya sepadan dengan baju yang di kenakan, tatanan ramput rapi, menambah kesan keanggunan. Bermake-up sedang tanpa banyak polesan dia sudah terlihat begitu sempurna. Di tambah dengan aksesoris yang pas dikenakan dengan padanan yang sangat sempurna, menambah kesan dia adalah wanita yang fashionable. 

    Aku menunggu momen ini begitu lama. Hapir sepuluh tahun lamanya, kesengsaraan hidupku menanti cinta. Menunggu datangnya bidadari yang menyapaku dengan senyuman indah, dan menyalamiku dengan ucapan sayang. Saat ini aku bahagia, bisa hidup layaknya laki-laki normal. Walaupun sekian lama itu aku hanyalah manusia bodoh yang merindukan bidadari jatuh dari kahyangan.

    Malam panjang itupun tak aku sia-siakan untuk melakukan hal-hal bodoh. Aku benar-benar ingin membuatnya bahagia. Aku benar-benar ingin menjadikan dia wanita satu-satu dimuka bumi ini yang paling bahagia. 

    Acara malam itupun begitu romantis, alunan lagu-lagu dari penyanyi Tulus membawa aku dalam sebuah nostalgia cinta. Aku berdua kasmaran, merasa nyaman dan tenang bisa berduaan seperti ini. Menyaksikan melodi cinta. Berjoget bersama, menyanyi bersama, teriak-teriak mengeluk-elukan sang artis. Aku bahagia bisa melakukan itu dengannya. Hal yang dulunya hanya khayalan belaka, mimpi semata. Yang mustahil akan pernah terjadi eperti malam ini. Tapi inilah kekuatan cinta. Cinta yang penuh dengan rasa cinta, sayang yang penuh dengan romansa kasih sayang. Aku terbuai dalam alunannya, mengalir merdu dan syahdu di telingaku. 

    "Mau kah kau menikah denganku" Aku menutup malam itu dengan ungkapan perasaan yang dalam, dengan menyodorkan cincin kepadanya, sebelum dia turun dan meninggalkan mobilku.

    "Iyah, aku mau menikah denganmu" tangannyapun bersaut, menuntun aku untuk memasangkan di cari manisnya. Sebuah kecupan manis mendarat di keningku. Ciuman cintapun bersarang di bibirku. Aku kikuk, aku terbang melayang menembus nirwana. Seakan khayangan milik kita berdua. Langit gelap yang dipenuhi taburan bintang-bintang  menjadi saksinya. Cincin permata itu jadi kuncinya. Cintaku akhirnya bisa menjadi kenyataan dalam hembusan angin keabadian, yang takan pernah lekang oleh zaman. Hingga sampai akhir khayat dunia ini kita akan selalu bersama. Cinta yang abadi untuk selama-lamanya. Cintaku cinta yang tak lekang oleh waktu. (/rdl)

    Lippo karawaci, 10 juni 2014

    Wednesday, May 7, 2014

    Huhft sampai disini akhirnya cerita ini, kini kau dan aku sudah tak lagi bersama, dan ini semua hanya bisa aku simpan dalam hati yang paling dalam. Mungkin ini terakhir kalinya aku mengenangmu. Kenangan indah itu akan ku kubur bersama amnisnya cintaku denganmu.

    Emil sapaan akrab emilia anggraini, gadis cantik yang hampi enam tahun lamanya ini selalu bersamaku, dalam susah ataupun senang. Dia pacaran denganku sejak kelas dua SMA, kita memang satu kelas bareng. Banyak yang bilang kita pasangan yang serasi, tapi jalan tuhan memang sudah diatur sedemikian hebatnya hingga aku tak bisa melawan takdir itu.

    Semuanya tinggal kenangan, kenangan cerita selama enam tahun menjalani cinta denganmu. Kenapa dan mengapa harus seperti ini akhir cerita yang aku harapkan berakhir indah itu. Tapi inilah kenyataan hidup yang harus aku terima. Walau rasanya aku tak sanggup untuk menerima namun apalah daya aku harus tetap terima, ikhlas atau tidak ikhlas nyatanya aku harus mengikhlaskan dia untuk pergi.


    Mungkin sulit untuk aku lupain semuannya, tapi aku harus terus mencoba untuk melupakanmu, yang aku tau mungkin semua ini hanya cerita masa lalu, semua yang aku rasakan saat ini mungkin tidak dia rasakan, betapa sulitnya aku buat lupain ini mungkin tidak begitu buat dia, tapi entahlah, cerita yang kita tulis dulu terlalu banyak, cerita yang kita lalui terlalu padat, sulit buat aku untuk menghilangin satu persatu.

    Hahaha…lucu mungkin, tapi yang aku rasain sekarang sakit, dan mungkin terlalu sakit sampai aku tidak bisa merasakan sakit itu. Semua yang kita bicarakan, impikan yang kita agungkan hancur semua, Puzzle itu bukan lagi runtuh melaikan hancur, entah siapa yang merusaknya yang jelas ini lah kenyataanya cintaku tak lagi bersama.

    Huhuhuhu, nangis, sedih, menghela nafas pun tak cukup membuat aku kuat menopang ini semua, lebay mungkin itu yang dia utarakan, tapi inilah kenyataannya, jujur tambah kesini aku tambah takut buat jatuh cinta, takut akan hancur seperti ini lagi.

    Pengkhiyanatan, mungkin kata itu yang pantes buat aku lontarkan, sering kali aku dikhiyanati, dibohongi, di anggap ga ada, gila memang karna aku ga pernah tau kenapa harus dibalas dengan dusta semuanya!

    Tuhan...entah apa rencana-Mu untuk hamba, dia yang selama ini aku cinta, aku sayang, aku hormati, aku hargai tak berbekas apa-apa. Hanya ini balasannya, entah mau gmna dan harus marah kepada siapa, tapiaku berfikir ini begitu tidak adil buat aku, aku juga manusia yang ingin bahagia, yang punya perasaan, tapi semua itu mungkin percuma aku lontarkan, karna mungkin dia sudah tak memiliki rasa sayang terhadap aku, bahkan kasianpun rasanya sudah tak ada lagi buat aku.

    Mungkin dulu aku salah menanam, aku menanam padi eh ternyata yang tumbuh malah rumput, aku mungkin sudah tak berarti lagi buat dia, sakit rasanya. Aku sadar walaupun aku berkoar tidak akan apa-apa lagi dan itu semua pasti hanya akan percuma. Tuhan engkau maha segalanya, engkau bisa mengembalikan terbitnya matahari, merubah segala yang ada di dunia ini, apakah begitu sulit untuk merubah hati mereka yang tidak suka terhadapku! yang menurut aku itu sangat kecil bagi-Mu tuhan. Aku hanya terlihat seperti bodoh yang menanti keajaiban, aku cuma di manfaatkan, dia dateng disaat dia butuh aku, dia ada disaat dia lagi sendiri, tapi setelah itu, dia meninggalkanku begitu saja, tuhan dimana kebesaran-Mu, dimana kasih-Mu untuk hamba yang mengemis cinta. Hamba manusia yang masih punya perasaan, hmmm dia bisa tersenyum lebar diatas penderitaan yg aku rasakan, dia bisa tertawa diatas tangisan aku diamana karma-Mu, diamana kebesaran-Mu. Aku tidak bisa membales apa-apa tapi aku yakin akan kebesaran-Mu Tuhan.

    Aku berharap sekarang dia bisa kembalikan hatiku yang selama ini aku beri, tolong kembalikan semuanya seperti sediakala kenapa dia harus pergi, kenapa dia harus hancurkan hati ini. Apa yang terjadi sebenernya, terjadi dengan cinta yang aku yakini selama akan indah di akhir cerita.

    (bersambung)

    Semuanya Tinggal Kenangan

    Posted at  Wednesday, May 07, 2014  |  in  Cerpen  |  Read More»

    Huhft sampai disini akhirnya cerita ini, kini kau dan aku sudah tak lagi bersama, dan ini semua hanya bisa aku simpan dalam hati yang paling dalam. Mungkin ini terakhir kalinya aku mengenangmu. Kenangan indah itu akan ku kubur bersama amnisnya cintaku denganmu.

    Emil sapaan akrab emilia anggraini, gadis cantik yang hampi enam tahun lamanya ini selalu bersamaku, dalam susah ataupun senang. Dia pacaran denganku sejak kelas dua SMA, kita memang satu kelas bareng. Banyak yang bilang kita pasangan yang serasi, tapi jalan tuhan memang sudah diatur sedemikian hebatnya hingga aku tak bisa melawan takdir itu.

    Semuanya tinggal kenangan, kenangan cerita selama enam tahun menjalani cinta denganmu. Kenapa dan mengapa harus seperti ini akhir cerita yang aku harapkan berakhir indah itu. Tapi inilah kenyataan hidup yang harus aku terima. Walau rasanya aku tak sanggup untuk menerima namun apalah daya aku harus tetap terima, ikhlas atau tidak ikhlas nyatanya aku harus mengikhlaskan dia untuk pergi.


    Mungkin sulit untuk aku lupain semuannya, tapi aku harus terus mencoba untuk melupakanmu, yang aku tau mungkin semua ini hanya cerita masa lalu, semua yang aku rasakan saat ini mungkin tidak dia rasakan, betapa sulitnya aku buat lupain ini mungkin tidak begitu buat dia, tapi entahlah, cerita yang kita tulis dulu terlalu banyak, cerita yang kita lalui terlalu padat, sulit buat aku untuk menghilangin satu persatu.

    Hahaha…lucu mungkin, tapi yang aku rasain sekarang sakit, dan mungkin terlalu sakit sampai aku tidak bisa merasakan sakit itu. Semua yang kita bicarakan, impikan yang kita agungkan hancur semua, Puzzle itu bukan lagi runtuh melaikan hancur, entah siapa yang merusaknya yang jelas ini lah kenyataanya cintaku tak lagi bersama.

    Huhuhuhu, nangis, sedih, menghela nafas pun tak cukup membuat aku kuat menopang ini semua, lebay mungkin itu yang dia utarakan, tapi inilah kenyataannya, jujur tambah kesini aku tambah takut buat jatuh cinta, takut akan hancur seperti ini lagi.

    Pengkhiyanatan, mungkin kata itu yang pantes buat aku lontarkan, sering kali aku dikhiyanati, dibohongi, di anggap ga ada, gila memang karna aku ga pernah tau kenapa harus dibalas dengan dusta semuanya!

    Tuhan...entah apa rencana-Mu untuk hamba, dia yang selama ini aku cinta, aku sayang, aku hormati, aku hargai tak berbekas apa-apa. Hanya ini balasannya, entah mau gmna dan harus marah kepada siapa, tapiaku berfikir ini begitu tidak adil buat aku, aku juga manusia yang ingin bahagia, yang punya perasaan, tapi semua itu mungkin percuma aku lontarkan, karna mungkin dia sudah tak memiliki rasa sayang terhadap aku, bahkan kasianpun rasanya sudah tak ada lagi buat aku.

    Mungkin dulu aku salah menanam, aku menanam padi eh ternyata yang tumbuh malah rumput, aku mungkin sudah tak berarti lagi buat dia, sakit rasanya. Aku sadar walaupun aku berkoar tidak akan apa-apa lagi dan itu semua pasti hanya akan percuma. Tuhan engkau maha segalanya, engkau bisa mengembalikan terbitnya matahari, merubah segala yang ada di dunia ini, apakah begitu sulit untuk merubah hati mereka yang tidak suka terhadapku! yang menurut aku itu sangat kecil bagi-Mu tuhan. Aku hanya terlihat seperti bodoh yang menanti keajaiban, aku cuma di manfaatkan, dia dateng disaat dia butuh aku, dia ada disaat dia lagi sendiri, tapi setelah itu, dia meninggalkanku begitu saja, tuhan dimana kebesaran-Mu, dimana kasih-Mu untuk hamba yang mengemis cinta. Hamba manusia yang masih punya perasaan, hmmm dia bisa tersenyum lebar diatas penderitaan yg aku rasakan, dia bisa tertawa diatas tangisan aku diamana karma-Mu, diamana kebesaran-Mu. Aku tidak bisa membales apa-apa tapi aku yakin akan kebesaran-Mu Tuhan.

    Aku berharap sekarang dia bisa kembalikan hatiku yang selama ini aku beri, tolong kembalikan semuanya seperti sediakala kenapa dia harus pergi, kenapa dia harus hancurkan hati ini. Apa yang terjadi sebenernya, terjadi dengan cinta yang aku yakini selama akan indah di akhir cerita.

    (bersambung)

    Thursday, April 17, 2014

    Di hari minggu yang cerah gwe menelusuri jalanan kota dengan sepeda pixy bersama teman-teman satu komunitas, ini hobi yang selalu aku lakukan setiap libur tiba karena menyenangkan, apalagi kalau liburan gini nggak ada satupun kendaraan yang lalu lalang kesana kemari karena memang diberlakukan car free day, padahal kalau hari-hari biasa duh parah banget ni jalan.

    Selain untuk berolahraga bersepeda juga membuat gwe jadi mempunyai banyak temen, karena kita bisa saling mengenal karena kesamaan hoby dan kesukaan pada sepeda.  Namun di antara temen-temen sepeda gwe ada yang sedikit nyeleneh, di seorang pria dengan postur tubuh yang sangat ideal, berparas tampan dan fasioneble. Walaupun sedang berolahraga tapi tetep harus kelihatan kece. Namanya aldo, di bekerja di sebuah perusahaan swasta di jakarta, dia bekerja di bagian marketing.

    Namun yang menjadi disayangkan adalah tentang orientasi sexnya, aneh ajah orang seperti itu nggak suka dengan lawan jenis melainkan lebih suka dengan sesama jenis. Walau awalnya nggak percaya akhirnya harus gwe akui, penampilan mereka hanya kamuflase semata untuk menutupi perilaku yang menyimpang itu. Tapi gwe sih nggak pernah yang namanya mempermasalahkan itu. 

    Perjalanan yang santai itu di warnai dengan canda tawa yang asik, beberapa kali bertemu juga dengan orang-orang yang sama sedang melakukan olah raga juga. 

    Sesampainya di bundaran Hotel Indonesia gwe dan temen-temen beristirahat. Obrolan sana sini nggak jelas, sambil melihat orang-orang yang sedang lalu lalang. Tujuan mereka sama berolahraga juga. 

    setelah beberapa saat beristirahat gwe melanjutkan perjalanan menuju ke arah senayan, tiba-tiba si aldo malah ngajakin temen-temen untuk adu kecepatan, siapa yang menang nanti di traktir sarapan. Karena memang semuanya masih pada fit akhirnya kita setuju untuk melakukannya.

    Adu kecepatan dari hari HI merupakan suatu yang lumayan bersiko karena banyak banget orang yang juga melakukan aktifitas olahraga. Tapi karena ada imbalan sarapan gratis akhirnya kitapun langsung melasat satu persatu.

    Sepeda di kayuh dengan secepat-cepatnya pada kita menggunakan pixy yang notabenya sepeda tanpa peralihan gear, memang terasa berat dan melelahkan tapi seru juga, dari dua belas orang semuanya hampir dengan kecepatan yang sama. Paha mulai terasa pegal-pegal, keringat mengucur. Namun ambisi dari temen-temen untuk memenangkan adu balap itu memompa semangat semuanya. Namun sedikit demi sedikit mulai memperlambat laju sepeda karena kelalahan. Namun aldo masih kelihatan bugar dan terus mengayuh sepeda, sepertinya dia memang sudah mengukur kemampuan temen-temen itu.

    Dengan sedikit tenaga yang ada kitapun sampai di bundaran senayan, semuanya sampai hampir bebarengan kecuali aldo yang meninggalkan peserta lainnya. Gwe gak nyangka orang lemah gemulai dan kemayu gitu ternyata tenaga besar juga. Dia dengan bangga dan mengejek temen-temen yang lain karena loyo untuk diajak adu balap.

    Melihat kejadian itu gwe jadi berfikiran gimana yah dia bisa kayak gitu, pejantan tangguh na kemayu. Berbadan laki-laki maco, keren dan tampan nggak jadi jaminan kalau dia itu seratus persen laki-laki sejati. Ngondek kalau banyak orang bilang mah, kata si mongol laki-laki KW. (/rdl)


    Pejantan Tangguh nan Kemayu

    Posted at  Thursday, April 17, 2014  |  in  Cerpen  |  Read More»

    Di hari minggu yang cerah gwe menelusuri jalanan kota dengan sepeda pixy bersama teman-teman satu komunitas, ini hobi yang selalu aku lakukan setiap libur tiba karena menyenangkan, apalagi kalau liburan gini nggak ada satupun kendaraan yang lalu lalang kesana kemari karena memang diberlakukan car free day, padahal kalau hari-hari biasa duh parah banget ni jalan.

    Selain untuk berolahraga bersepeda juga membuat gwe jadi mempunyai banyak temen, karena kita bisa saling mengenal karena kesamaan hoby dan kesukaan pada sepeda.  Namun di antara temen-temen sepeda gwe ada yang sedikit nyeleneh, di seorang pria dengan postur tubuh yang sangat ideal, berparas tampan dan fasioneble. Walaupun sedang berolahraga tapi tetep harus kelihatan kece. Namanya aldo, di bekerja di sebuah perusahaan swasta di jakarta, dia bekerja di bagian marketing.

    Namun yang menjadi disayangkan adalah tentang orientasi sexnya, aneh ajah orang seperti itu nggak suka dengan lawan jenis melainkan lebih suka dengan sesama jenis. Walau awalnya nggak percaya akhirnya harus gwe akui, penampilan mereka hanya kamuflase semata untuk menutupi perilaku yang menyimpang itu. Tapi gwe sih nggak pernah yang namanya mempermasalahkan itu. 

    Perjalanan yang santai itu di warnai dengan canda tawa yang asik, beberapa kali bertemu juga dengan orang-orang yang sama sedang melakukan olah raga juga. 

    Sesampainya di bundaran Hotel Indonesia gwe dan temen-temen beristirahat. Obrolan sana sini nggak jelas, sambil melihat orang-orang yang sedang lalu lalang. Tujuan mereka sama berolahraga juga. 

    setelah beberapa saat beristirahat gwe melanjutkan perjalanan menuju ke arah senayan, tiba-tiba si aldo malah ngajakin temen-temen untuk adu kecepatan, siapa yang menang nanti di traktir sarapan. Karena memang semuanya masih pada fit akhirnya kita setuju untuk melakukannya.

    Adu kecepatan dari hari HI merupakan suatu yang lumayan bersiko karena banyak banget orang yang juga melakukan aktifitas olahraga. Tapi karena ada imbalan sarapan gratis akhirnya kitapun langsung melasat satu persatu.

    Sepeda di kayuh dengan secepat-cepatnya pada kita menggunakan pixy yang notabenya sepeda tanpa peralihan gear, memang terasa berat dan melelahkan tapi seru juga, dari dua belas orang semuanya hampir dengan kecepatan yang sama. Paha mulai terasa pegal-pegal, keringat mengucur. Namun ambisi dari temen-temen untuk memenangkan adu balap itu memompa semangat semuanya. Namun sedikit demi sedikit mulai memperlambat laju sepeda karena kelalahan. Namun aldo masih kelihatan bugar dan terus mengayuh sepeda, sepertinya dia memang sudah mengukur kemampuan temen-temen itu.

    Dengan sedikit tenaga yang ada kitapun sampai di bundaran senayan, semuanya sampai hampir bebarengan kecuali aldo yang meninggalkan peserta lainnya. Gwe gak nyangka orang lemah gemulai dan kemayu gitu ternyata tenaga besar juga. Dia dengan bangga dan mengejek temen-temen yang lain karena loyo untuk diajak adu balap.

    Melihat kejadian itu gwe jadi berfikiran gimana yah dia bisa kayak gitu, pejantan tangguh na kemayu. Berbadan laki-laki maco, keren dan tampan nggak jadi jaminan kalau dia itu seratus persen laki-laki sejati. Ngondek kalau banyak orang bilang mah, kata si mongol laki-laki KW. (/rdl)


    Wednesday, April 16, 2014

    Minggu lalu gwe pulang kerumah dengan perasaan yang kurang menyenangkan, karena beberapa waktu sebelumnya dibuat kecewa oleh seorang pramugari sebuah maskapai penerbangan di Indonesia. Walapun wajahnya cantik jelita bak putri tetapi hatinya tidak, ternyata dia adalah simpanan om-om. Gwe menaruh asa terlalu tinggi untuk memilikinya lebih dari seorang teman dekat biasa, mengingat umurku yang sudah semakin dewasa, tapi hingga saat ini belum juga mendapatkan pendamping hidup.

    Perjalanan dari Jakarta ke Jogja terasa hampa dan kurang menyenangkan, di sepanjang perjalan gwe yang biasanya sangat menikmati perjalan jadi tidak bersemangat karena selalu mengingat kejadian itu. “Selamat siang, mas mau kemana yah” sapa seorang yang duduk disamping kursiku, saking tidak menghiraukannya gwe hanya menjawab sekenanya, lagian nggak begitu penting juga menurut gwe harus menanggapi orang yang tidak gwe kenal. Sepanjang perjalanan di kereta aku lebih banyak tidur, dari mulai berangkat dari Jakarta hingga sampai di jogja.

    Sesampainya di Jogja waktu sudah menunjukan jam setangah tiga sore, ini artinya aku bisa mampir sebentar ke warung gudeg langganan Gwe. Kesibukan Nampak di setiap sudut kota jogja, mobil lalu lalang, delman, becak saling berseliweran.

    “sendirian ajah, kamu suka gudeg, bolehkah duduk disini” seorang wanita paruh baya dengan dandanan modis duduk disebelah gwe, nggak tau dari mana asalnya tiba-tiba dia sudah ada saja di samping gwe, “oh silahkan duduk, santai ajah aku juga sendirian”.

    Ternyata orang yang tadi duduk di sebelahku waktu dikereta! Dia rupanya sedang galau juga, melakukan perjalanan ke jogja sendiri tanpa tujuan. Akhirnya kita memulai perbincangan, kesana kemari karena memiliki kesamaan yaitu sedang galau.

    Percakapan itu semakin hangat hingga berakhirnya makan sore waktu itu, karena sama-sama tidak memiliki tujuan yang jelas kita memutuskan untuk melakukan perjalanan bersama di kota gudeg ini. Ternyata dia orangnya sangat menyenangkan dan penuh perhatian, setidaknya dia mau terbuka dengan orang yang baru dia kenal di warung gudeg. Perjalanan itu pun akhirnya di mulai, kita berdua menikmatinya dengan bahagia. Tanpa memikirkan apa yang sebenarnya sedang terjadi pada diri kita masing-masing.

    Gwe akhirnya hanya mampir sebentar kerumah orang tua, yang ada di daerah Kota Gede, perasaan tidak enak hati, gwe gak ngebayangin betapa teganya seseorang yang gwe sayangi ternyata seperti itu. Tapi itu semua sedikit terobati oleh kehadiran wanita yang memiliki kesamaan dengan gwe itu.

    Dari perjalanan yang tak disengaja itu akhirnya berlanjut hingga ke Jakarta, kita berdua terus saling berkomunikasi, beberapa waktu kita juga jalan bareng. Di lain kesempatan kita malah lagi berlibur ke puncak, atau ke anyer berdua. Perjalanan itu tanpa ada status apa-apa antara kita berdua, karena kita berdua hanya berkomitmen senang sama senang dan tau sama tau!
    (/rdl)

    Mengejar Tante-tante #3

    Posted at  Wednesday, April 16, 2014  |  in  Cerpen  |  Read More»

    Minggu lalu gwe pulang kerumah dengan perasaan yang kurang menyenangkan, karena beberapa waktu sebelumnya dibuat kecewa oleh seorang pramugari sebuah maskapai penerbangan di Indonesia. Walapun wajahnya cantik jelita bak putri tetapi hatinya tidak, ternyata dia adalah simpanan om-om. Gwe menaruh asa terlalu tinggi untuk memilikinya lebih dari seorang teman dekat biasa, mengingat umurku yang sudah semakin dewasa, tapi hingga saat ini belum juga mendapatkan pendamping hidup.

    Perjalanan dari Jakarta ke Jogja terasa hampa dan kurang menyenangkan, di sepanjang perjalan gwe yang biasanya sangat menikmati perjalan jadi tidak bersemangat karena selalu mengingat kejadian itu. “Selamat siang, mas mau kemana yah” sapa seorang yang duduk disamping kursiku, saking tidak menghiraukannya gwe hanya menjawab sekenanya, lagian nggak begitu penting juga menurut gwe harus menanggapi orang yang tidak gwe kenal. Sepanjang perjalanan di kereta aku lebih banyak tidur, dari mulai berangkat dari Jakarta hingga sampai di jogja.

    Sesampainya di Jogja waktu sudah menunjukan jam setangah tiga sore, ini artinya aku bisa mampir sebentar ke warung gudeg langganan Gwe. Kesibukan Nampak di setiap sudut kota jogja, mobil lalu lalang, delman, becak saling berseliweran.

    “sendirian ajah, kamu suka gudeg, bolehkah duduk disini” seorang wanita paruh baya dengan dandanan modis duduk disebelah gwe, nggak tau dari mana asalnya tiba-tiba dia sudah ada saja di samping gwe, “oh silahkan duduk, santai ajah aku juga sendirian”.

    Ternyata orang yang tadi duduk di sebelahku waktu dikereta! Dia rupanya sedang galau juga, melakukan perjalanan ke jogja sendiri tanpa tujuan. Akhirnya kita memulai perbincangan, kesana kemari karena memiliki kesamaan yaitu sedang galau.

    Percakapan itu semakin hangat hingga berakhirnya makan sore waktu itu, karena sama-sama tidak memiliki tujuan yang jelas kita memutuskan untuk melakukan perjalanan bersama di kota gudeg ini. Ternyata dia orangnya sangat menyenangkan dan penuh perhatian, setidaknya dia mau terbuka dengan orang yang baru dia kenal di warung gudeg. Perjalanan itu pun akhirnya di mulai, kita berdua menikmatinya dengan bahagia. Tanpa memikirkan apa yang sebenarnya sedang terjadi pada diri kita masing-masing.

    Gwe akhirnya hanya mampir sebentar kerumah orang tua, yang ada di daerah Kota Gede, perasaan tidak enak hati, gwe gak ngebayangin betapa teganya seseorang yang gwe sayangi ternyata seperti itu. Tapi itu semua sedikit terobati oleh kehadiran wanita yang memiliki kesamaan dengan gwe itu.

    Dari perjalanan yang tak disengaja itu akhirnya berlanjut hingga ke Jakarta, kita berdua terus saling berkomunikasi, beberapa waktu kita juga jalan bareng. Di lain kesempatan kita malah lagi berlibur ke puncak, atau ke anyer berdua. Perjalanan itu tanpa ada status apa-apa antara kita berdua, karena kita berdua hanya berkomitmen senang sama senang dan tau sama tau!
    (/rdl)

    Tuesday, February 11, 2014

    Jalanan jakarta sedang macet parah, suara mesin berderu kencang, suara klakson saling bersautan. Supir metro mini dan bus kota saling memaki dengan para sopir taksi, ditambah sedap bumbu berisik dari sopir bajaj yang nampaknya acuh dengan keadaan ini. Aku sedang berdesakan di metromini 91 arah Batur sari - Tanah Abang, saat itu aku hendak ke pusat perbelanjaan yang ada di daerah grogol, rencananya aku mau beli hape. Supir nampaknya lihai dalam mencari celah, untuk menembus kemacetan karena memang setiap hari terjadi di jalanan ibu kota. Aku hanya banyak berdoa agar selamat sampai tujuan, sang sopir membawa kendaraanya dengan sekonyong-konyong, mengerem mendadak dan tanjap gas semaunya.

    Sesampainya di tempat tujuan aku merasa ingin muntah karena perut dikocok abis karena ulah ugal-ugalan supir sialan tadi. Tapi itulah hal seru setiap aku naik metromini, dengan sensasi luar biasa!

    Hari itu aku menuju pusat perbelanjaan elektronik, letaknya ada di jalan KH Mas Mansyur di Jakarta Barat, rencananya aku mau membeli hape, sudah hampir tiga bulan yang lalu aku sudah hunting. Hape keluaran pabrikan Korea yang lagi banyak banget di pasaran saat ini.

    Beberapa penjaga toko memanggil-manggil pada setiap orang yang datang dengan maksud untuk menawarkan barang dagangannya. Saat itu kondisi mall sedang banyak pengujung. Aku sesekali berhenti di toko-toko yang memajang beberapa macam hape, tapi hanya sekedar untuk mengecek harga pasaran saja, karena aku ingin langsung datang di galery produsen hape tersebut. Harga di toko-toko tersebut memang ditawarkan dengan menggiurkan, promo yang mereka berikan juga sangat menarik. Aku hampir kepincut dengan rayuan-rayuan cici si penjaga toko, dengan bahasa dagang yang cukup lihai. Tapi aku tetap dengan tujuan awal yakni ke galerynya langsung.

    "Ci ada hape model kayak gini gak ci" suara itu terlintas di telingaku. Salah seorang penjaga toko mengambil hape dan menaruhnya diatas etalasenya. " Ni barang lagi laku banget ah, loe orang gak rugi kalau beli disini, aku kasih harga miring ah" dengan sigap si penjaga toko tadi menawarkan barang dagangannya kepada pembeli yang meminta barang sesuai dengan keinginnanya tadi. Setelah beberapa waktu tawar menawar akhirnya proses jual belipun terjadi.

    Aku menuju galery hape produk korea itu, letaknya berada paling pojok di lantai lima pusat perbelanjaan elektronik terutama hape terbesar di jakarta. Aku menanyakan tipe hape sesuai dengan yang aku maksud, sesuai rencana awal. Di etalase ada beberapa hape contoh. Aku sedikit tergiur dengan hape berbagai macam terebut, aku mulai mengoperasikannya untuk lihat-lihat fitur yang ada di hape tersebut, atau sekedar iseng ingin tahu saja..

    "Mbak, hape ini berapaan yah harganya"

    "Yang itu, Tiga juta enam ratus sepuluh ribu, pas" Salah seorang penjaga galery menjawab sambil memberikan keterangan pada pendatang. tapi dari suaranya aku sedikit tidak asing, karena beberapa waktu yang lalu seperti mendengar suara itu. Ternyata benar seorang wanita paruh baya yang sebelumnya membeli hape di toko yang aku hampiri di los bawah.

    Pandanganku tertuju padanya memperhatikan tingkahnya, dia sedang mengoperasikan hape contoh sambil bertanya-tanya pada penjaga toko. Dalam hatiku terbersit pertanyaan, "buat apa beli hape banyak-banyak mau jualan". Tiba-tiba aku salah tingkah saat pandangan wajahnya mengarah padaku hinga kita bertemu di suatu titik. Senyumnya mengembang, parasnya yang cantik di poles dengan make minimalis, tubuhnya yang semampai, ditambah kakinya memakai sepatu berhak tinggi menambah kesempurnaan seorang wanita. mungkin dia masih ingat dengan wajahku, karena tadipun aku memperhatikan dia saat di toko sebelumnya.

    Sambil iseng aku menanyakan keunggulan hape yang berjejer itu, aku melihat dia paham betul dengan hape yang ada disitu. Tapi itu hanya sebuah kamuflase untuk mengetahui dia lebih lanjut. Aku memberanikan diri untuk bertanya padanya, walau sedikit canggung akhirnya kekhawatiranku terbayar karena dia menyambut beberapa pertanyaan dariku.

    Setelah beberapa waktu akhirnya aku melakukan transaksi jual beli sesuai dengan hape yang aku inginkan. Hape itu aku beli dan langsung di instal beberapa perangkat lunak. Salah satunya adalah Blackberry for Android, setelah selesai penginstalan aku iseng menanyakan bagaimana cara pengoperasian perangkat lunak tersebut, apakah sudah aktif atau belum pada wanita paruh baya yang masih sibuk dengan beberapa hape yang di sodorkan oleh penjaga toko, dia memberikan beberapa penjelasan yang dia tahu dan memberikan Pin BB untuk aku invite. Setelah di invite dan di konfirmasi perangkat lunak itupun aktif dan bisa di operasikan, disana terlihat satu kontak teman bernama Adelia dengan foto wajah cantiknya, mengenakan gaun merah panjang dengan tas kecil di samping.

    "Jangan di hapus yah kontaknya...!, nanti aku Ping!! "

    The end



    Mengejar Tante-tante #2

    Posted at  Tuesday, February 11, 2014  |  in  Cerpen  |  Read More»

    Jalanan jakarta sedang macet parah, suara mesin berderu kencang, suara klakson saling bersautan. Supir metro mini dan bus kota saling memaki dengan para sopir taksi, ditambah sedap bumbu berisik dari sopir bajaj yang nampaknya acuh dengan keadaan ini. Aku sedang berdesakan di metromini 91 arah Batur sari - Tanah Abang, saat itu aku hendak ke pusat perbelanjaan yang ada di daerah grogol, rencananya aku mau beli hape. Supir nampaknya lihai dalam mencari celah, untuk menembus kemacetan karena memang setiap hari terjadi di jalanan ibu kota. Aku hanya banyak berdoa agar selamat sampai tujuan, sang sopir membawa kendaraanya dengan sekonyong-konyong, mengerem mendadak dan tanjap gas semaunya.

    Sesampainya di tempat tujuan aku merasa ingin muntah karena perut dikocok abis karena ulah ugal-ugalan supir sialan tadi. Tapi itulah hal seru setiap aku naik metromini, dengan sensasi luar biasa!

    Hari itu aku menuju pusat perbelanjaan elektronik, letaknya ada di jalan KH Mas Mansyur di Jakarta Barat, rencananya aku mau membeli hape, sudah hampir tiga bulan yang lalu aku sudah hunting. Hape keluaran pabrikan Korea yang lagi banyak banget di pasaran saat ini.

    Beberapa penjaga toko memanggil-manggil pada setiap orang yang datang dengan maksud untuk menawarkan barang dagangannya. Saat itu kondisi mall sedang banyak pengujung. Aku sesekali berhenti di toko-toko yang memajang beberapa macam hape, tapi hanya sekedar untuk mengecek harga pasaran saja, karena aku ingin langsung datang di galery produsen hape tersebut. Harga di toko-toko tersebut memang ditawarkan dengan menggiurkan, promo yang mereka berikan juga sangat menarik. Aku hampir kepincut dengan rayuan-rayuan cici si penjaga toko, dengan bahasa dagang yang cukup lihai. Tapi aku tetap dengan tujuan awal yakni ke galerynya langsung.

    "Ci ada hape model kayak gini gak ci" suara itu terlintas di telingaku. Salah seorang penjaga toko mengambil hape dan menaruhnya diatas etalasenya. " Ni barang lagi laku banget ah, loe orang gak rugi kalau beli disini, aku kasih harga miring ah" dengan sigap si penjaga toko tadi menawarkan barang dagangannya kepada pembeli yang meminta barang sesuai dengan keinginnanya tadi. Setelah beberapa waktu tawar menawar akhirnya proses jual belipun terjadi.

    Aku menuju galery hape produk korea itu, letaknya berada paling pojok di lantai lima pusat perbelanjaan elektronik terutama hape terbesar di jakarta. Aku menanyakan tipe hape sesuai dengan yang aku maksud, sesuai rencana awal. Di etalase ada beberapa hape contoh. Aku sedikit tergiur dengan hape berbagai macam terebut, aku mulai mengoperasikannya untuk lihat-lihat fitur yang ada di hape tersebut, atau sekedar iseng ingin tahu saja..

    "Mbak, hape ini berapaan yah harganya"

    "Yang itu, Tiga juta enam ratus sepuluh ribu, pas" Salah seorang penjaga galery menjawab sambil memberikan keterangan pada pendatang. tapi dari suaranya aku sedikit tidak asing, karena beberapa waktu yang lalu seperti mendengar suara itu. Ternyata benar seorang wanita paruh baya yang sebelumnya membeli hape di toko yang aku hampiri di los bawah.

    Pandanganku tertuju padanya memperhatikan tingkahnya, dia sedang mengoperasikan hape contoh sambil bertanya-tanya pada penjaga toko. Dalam hatiku terbersit pertanyaan, "buat apa beli hape banyak-banyak mau jualan". Tiba-tiba aku salah tingkah saat pandangan wajahnya mengarah padaku hinga kita bertemu di suatu titik. Senyumnya mengembang, parasnya yang cantik di poles dengan make minimalis, tubuhnya yang semampai, ditambah kakinya memakai sepatu berhak tinggi menambah kesempurnaan seorang wanita. mungkin dia masih ingat dengan wajahku, karena tadipun aku memperhatikan dia saat di toko sebelumnya.

    Sambil iseng aku menanyakan keunggulan hape yang berjejer itu, aku melihat dia paham betul dengan hape yang ada disitu. Tapi itu hanya sebuah kamuflase untuk mengetahui dia lebih lanjut. Aku memberanikan diri untuk bertanya padanya, walau sedikit canggung akhirnya kekhawatiranku terbayar karena dia menyambut beberapa pertanyaan dariku.

    Setelah beberapa waktu akhirnya aku melakukan transaksi jual beli sesuai dengan hape yang aku inginkan. Hape itu aku beli dan langsung di instal beberapa perangkat lunak. Salah satunya adalah Blackberry for Android, setelah selesai penginstalan aku iseng menanyakan bagaimana cara pengoperasian perangkat lunak tersebut, apakah sudah aktif atau belum pada wanita paruh baya yang masih sibuk dengan beberapa hape yang di sodorkan oleh penjaga toko, dia memberikan beberapa penjelasan yang dia tahu dan memberikan Pin BB untuk aku invite. Setelah di invite dan di konfirmasi perangkat lunak itupun aktif dan bisa di operasikan, disana terlihat satu kontak teman bernama Adelia dengan foto wajah cantiknya, mengenakan gaun merah panjang dengan tas kecil di samping.

    "Jangan di hapus yah kontaknya...!, nanti aku Ping!! "

    The end



    Friday, December 27, 2013

    Perjalanan hidupku berubah seratus delapan puluh derajat ketika ada sebuah tawaran gila yang diberikan oleh seorang pengusaha Batubara asal kalimantan. Aku ditawari kerja diperusahaannya, tak tanggung-tanggung aku ditawari untuk menjabat Direktur Operasional diperusahaan yang dia pimpim. Akupun berfikir panjang untuk menerima tawaran yang cukup menggiurkan tersebut, secara aku hanyalah seorang pekerja salon.

    Awal mula perkenalan itu dimulai saat aku sedang bekerja di salon kecantikan pada sebuah mall di Jakarta Selatan. Saat itu ada seorang perempuan setengah baya datang untuk melakukan perawatan tubuh. Dia adalah tante Mira, pelanggan setia salon tempat aku bekerja. Saat itu dia terlihat sangat lelah, terlihat dari guratan-guratan wajahnya sangat muram.

    Disela-sela perawatan kami memulai percakapan, walaupun sedikit ragu-ragu akhirnya aku mengikuti arah pembicaraan yang diinginkan oleh tante Mira. Rupanya wajah muram-nya itu bukan tak beralasan, namun memang dia sedang dirundung berbagai permasalahan. Aku hanya menjadi pendengar setia. Dia bercerita panjang lebar tentang berbagai permasalahannya kepadaku, dan aku hanya menjawab sebisa mungkin agar tante Mira puas dengan pembicaraan itu. 

    Perusahaan yang dia pimpin sedang mengalami gejolak. Gonjang-ganjing dari permasalahan itu dikarenakan banyak orang didalamnya ingin menguasai perusahaan tersebut. Suami tante Mira meninggal enam bulan lalu dalam sebuah kecelakaan mobil, yang sepertinya ter-skenario. Penyelidikan tentang kematiannya pun berakhir setelah polisi mengumumkan hasilnya. Bahwa suami tante Mira tewas karena kecelakaan murni. Tante mira pun terlihat sangat kecewa, namun demikian dia akhirnya menerima dengan lapang dada kepergian suami tercinta.

    Dengan susah payah dia mempertahankan perusahaan peninggalan suaminya itu. Tidak mudah dia menjalankan roda perusahaan seorang diri. Karena memang sebelumnya dia hanya bekerja di balik suaminya tersebut.

    Melihat kesedihan tante Mira itu aku memberanikan diri untuk sedikit menasehati, walaupun tidak ada kewajiban aku untuk melakukan itu. Mungkin saat itu tante sedang membutuhkan sosok teman yang setidaknya bisa mengurangi beban permasalahannya itu. 

    Hampir dua jam obrolan itu berlalu, tante Mira sedikit lega dengan perasaannya, permasalahan yang sedang merundung dirinya seakan melayang begitu saja, terbawa pijatan-pijatan lembut olehku. Dia seakan menikmati perawatan tubuh yang ia jalani saat itu. Aku bekerja sangat profesional, tak ada sedikitpun hasrat untuk berbuat yang tidak-tidak, karena itu konsekuensi pada sebuah pekerjaan.

    Setelah selesai melakukan perawatan tante Mira merasakan kenyamanan dan ketenangan. Dia seolah melupakan permasalahannya itu. Wajahnya yang muram kembali segar dan bugar. Guratan wajah yang memperlihatkan dia sudah tidak muda kini kembali lebih tak terlihat, dia nampak seperti gadis lagi. Akupun nampak senang, karena pekerjaanku bukan hanya melakukan perawatan tubuh, namun bisa membantu pelanggan yang sedang dalam masalah. Itu aku lakukan semata-mata hanya untuk kepuasan pelanggan. Padahal aku paling malas kalau diajak bicara tentang kehidupan pribadi pelanggan. Karena dalam pikiran ku itu tidak baik untuk pekerjaan. Selain pekerjaanku jadi tambah, aku takut nanti si pelanggan jadi terlalu nyaman dan akhirnya malah jadi terus-terusan, atau bisa jadi pelanggan tetap itu sangat menakutkan bagiku.

    Sebelum pulang tante Mira menyempatkan diri untuk mengahampiriku yang sedang mengkrimbat pelanggan lain, aku berpikiran mungkin  dia hanya ingin mengucapkan terima kasih atau sekedar memberi ku uang Tips sperti pelanggan-pelanggan lain lakukan. Dengan muka sumringah dan senyum menawan dia menyapa ku. Dia mengucapkan terima kasih berungkali padaku, sambil menyelipkan kertas kedalam saku bajuku. Aku hanya membalasnya dengan senyum mengembang dari bibir dan menjawab sekenanya saja, karena tanganku sedang penuh dengan busa sampoo.

    Jam menunjukan pukul sembilan malam, aku pulang menggunakan angkutan umum, diperjalanan aku merasakan tubuhku sangat lelah, mungkin aku kecapean karena seharian bekerja tanpa henti. Aku menyenderkan tubuhku di kursi, saat itu bis kota sedang sesak oleh penumpang. Sebelum aku menutup mata tiba-tiba aku teringat kertas yang di selipkan oleh tante Mira di saku bajuku. Perlahan aku membukanya, remang-remang aku melihat tulisan itu, pencahayaan yang seadanya di bus membuat tulisan itu tidak terlalu jelas karena mataku sudah minus, tadinya aku ingin mengurungkan niat untuk membaca, namun rasa penasaran ini mendorongku untuk tetap membacanya, karena mataku sudah tidak kuat lagi menahan kantuk. "Kalau kamu mau bekerja di tempatku, silahkan datang ke kantor. Gedung Epicentrun Lt.15 Jl. Rasuna Said, salam Mira" Namun Secarik tulisan itu aku abaikan begitu saja, dan akupun terlelap dalam tidurku.

    ##

    Aku bekerja di salon itu hampir dua tahun. Sebenarnya pekerjaan itu aku lakukan dengan keterpaksaan, karena sesungguhnya tidak ada sedikitpun dalam benakku untuk melakukan pekerjaan seperti itu. Aku yang berperawakan sangat atletis ini jadi tak berarti apa-apa saat aku sedang bekerja, karena semua orang mengira aku adalah seorang Gay atau pun banci. Namun apalah daya himpitan ekonomi menjadi faktor yang sangat mempengaruhi agar aku tetap bekerja disitu, akhirnya aku harus merasa nyaman untuk melakukan semua pekerjaan yang jauh dari pendidikan-ku, dulu aku pernah kuliah di  Manajemen.

    Tulisan tante Mira hanya aku simpan begitu saja di kosan ku, aku tidak ada niat sama sekali untuk menerima tawaran tante Mira. Namun hati kecilku berbicara lain, aku berfikiran kapan lagi aku mendapatkan kesempatan seperti ini karena mencari pekerjaan di jakarta tidaklah mudah.

    Dengan perasaan canggung aku mengetuk pintu yang tertera di depannya dengan tulisan "Ruang Dirut". Seolah sedang menunggu kehadiranku tante Mira langsung membuka kan pintu lebar-lebar dan mempersilahkanku untuk masuk, dengan perasaan campur aduk aku mengikuti instruksi dia untuk duduk di depan meja yang kelihatannya adalah tempat ia bekerja. Wawancara pun dimulai sesaat setelah seorang office boy mengantarkan Coffee keruangan itu. Pembiacaraan itu dimulai dari pekerjaanku di salon, terus tentang pendidikanku, aktifitas sehari-hari, keluarga, sampai kegiatanku semuanya dia tanyakan. Aku menjawab dengan tenang dan santai. Wawancara itu hampir mirip seperti aku sedang melakukan pekerjaanku di salon, yaitu bekerja sambil ngobrol dengan pelanggan. 

    Setelah puas dengan semua pertanyaan yang diajukan tante Mira mengajakku untuk berkeliling kesemua bagian, aku dikenalkan dengan semua orang yang bekerja disitu. Mungkin ada hampir 50 orang yang bekerja disitu, bahkan sampai OB pun dikenalkan denganku. Aku tidak tau apa maksud dari semua ini, padahal aku juga belum tentu diterima sebagai karyawan di perusahaan itu. Setelah di kenal kan kesemua karyawan aku kembali masuk keruangan tante Mira. Aku duduk lagi berhadapan dengan sang Direktur cantik pelanggan setia salon tempat aku bekerja, dia menceritakan budaya dan aktifitas kerja yang ada diperusahaan yang dia pimpin. Di akhir pembicaraannya itu dia mengatakan sesuatu yang membuatku kaget "Apakah kamu mau bergabung dengan perusahaan ini" tutup tante sang Dirut, aku terdiam sesaat, ini diartikan olehku aku diterima diperusahaan itu. Sambil berfikir dan meyakinkan diri akhirnya aku dengan tegas menjawab siap untuk bergabung.

    Tante  Mira merasa senang karena aku mau menerima tawarannya untuk bekerja bersama nya. Namun dalam hati bertanya-tanya pekerjaan apakah yang akan aku emban nanti, apakah aku sanggup atau tidak untuk menjalan pekerjaan itu. Tante mira menjelaskan lagi pekerjaan apa yang bakalan aku emban nanti, pada sebuah kesimpulan dia memberiku keperyaan yang sangat tinggi aku diberikan jabatan langsung sebagai Direktur Operasional untuk mendampinginya bekerja. Aku terasa tersmbar petir disiang bolong.

    Rapat pimpinanpun diadakan, semua pimpinan diperusahaan itu seolah tidak menerima kehadiranku disitu, apalagi aku orang baru yang ada dilingkungan mereka. Tapi tante Mira memiliki kendali sangat kuat diperusahaan yang dibesarkan oleh suaminya itu. Lewat keputusan Direksi akhirnya aku ditetapkan sebagai Direktur Operasional. Inilah jalan hidup yang mengubahku seratus delapan puluh derajat, karena setalh itu aku menjadi orang yang sangat sibuk, bekerja siang malam untuk menunjukan kepada semua orang bahwa aku bisa untuk mejalankan perusahaan itu dengan baik dan bangkit dari keterpurukan. 

    Seminggu, sebulan, setahun, sampai sepuluh tahun kemudian aku berhasil menjalankan perusahaan itu dan berkembang dengan pesat hingga perusahaan itu memiliki cabang dan anak perusahaan dimana-dimana. Linne bisnis yang sebelum itu hanya mengeruk dan mengolah batubara kini sudah merambah pada bisnis properti, media, perkebunan, sampai transportasi. Akupun hidup bahagia! dengan berlimpah rezeki dari yang maha kuasa.

    the end


                                                 ####

    *Bagaiman kelanjutan ceritanya, tunggu saja tulisan berikutnya





    Mengejar Tante-tante #1

    Posted at  Friday, December 27, 2013  |  in  Cerpen  |  Read More»

    Perjalanan hidupku berubah seratus delapan puluh derajat ketika ada sebuah tawaran gila yang diberikan oleh seorang pengusaha Batubara asal kalimantan. Aku ditawari kerja diperusahaannya, tak tanggung-tanggung aku ditawari untuk menjabat Direktur Operasional diperusahaan yang dia pimpim. Akupun berfikir panjang untuk menerima tawaran yang cukup menggiurkan tersebut, secara aku hanyalah seorang pekerja salon.

    Awal mula perkenalan itu dimulai saat aku sedang bekerja di salon kecantikan pada sebuah mall di Jakarta Selatan. Saat itu ada seorang perempuan setengah baya datang untuk melakukan perawatan tubuh. Dia adalah tante Mira, pelanggan setia salon tempat aku bekerja. Saat itu dia terlihat sangat lelah, terlihat dari guratan-guratan wajahnya sangat muram.

    Disela-sela perawatan kami memulai percakapan, walaupun sedikit ragu-ragu akhirnya aku mengikuti arah pembicaraan yang diinginkan oleh tante Mira. Rupanya wajah muram-nya itu bukan tak beralasan, namun memang dia sedang dirundung berbagai permasalahan. Aku hanya menjadi pendengar setia. Dia bercerita panjang lebar tentang berbagai permasalahannya kepadaku, dan aku hanya menjawab sebisa mungkin agar tante Mira puas dengan pembicaraan itu. 

    Perusahaan yang dia pimpin sedang mengalami gejolak. Gonjang-ganjing dari permasalahan itu dikarenakan banyak orang didalamnya ingin menguasai perusahaan tersebut. Suami tante Mira meninggal enam bulan lalu dalam sebuah kecelakaan mobil, yang sepertinya ter-skenario. Penyelidikan tentang kematiannya pun berakhir setelah polisi mengumumkan hasilnya. Bahwa suami tante Mira tewas karena kecelakaan murni. Tante mira pun terlihat sangat kecewa, namun demikian dia akhirnya menerima dengan lapang dada kepergian suami tercinta.

    Dengan susah payah dia mempertahankan perusahaan peninggalan suaminya itu. Tidak mudah dia menjalankan roda perusahaan seorang diri. Karena memang sebelumnya dia hanya bekerja di balik suaminya tersebut.

    Melihat kesedihan tante Mira itu aku memberanikan diri untuk sedikit menasehati, walaupun tidak ada kewajiban aku untuk melakukan itu. Mungkin saat itu tante sedang membutuhkan sosok teman yang setidaknya bisa mengurangi beban permasalahannya itu. 

    Hampir dua jam obrolan itu berlalu, tante Mira sedikit lega dengan perasaannya, permasalahan yang sedang merundung dirinya seakan melayang begitu saja, terbawa pijatan-pijatan lembut olehku. Dia seakan menikmati perawatan tubuh yang ia jalani saat itu. Aku bekerja sangat profesional, tak ada sedikitpun hasrat untuk berbuat yang tidak-tidak, karena itu konsekuensi pada sebuah pekerjaan.

    Setelah selesai melakukan perawatan tante Mira merasakan kenyamanan dan ketenangan. Dia seolah melupakan permasalahannya itu. Wajahnya yang muram kembali segar dan bugar. Guratan wajah yang memperlihatkan dia sudah tidak muda kini kembali lebih tak terlihat, dia nampak seperti gadis lagi. Akupun nampak senang, karena pekerjaanku bukan hanya melakukan perawatan tubuh, namun bisa membantu pelanggan yang sedang dalam masalah. Itu aku lakukan semata-mata hanya untuk kepuasan pelanggan. Padahal aku paling malas kalau diajak bicara tentang kehidupan pribadi pelanggan. Karena dalam pikiran ku itu tidak baik untuk pekerjaan. Selain pekerjaanku jadi tambah, aku takut nanti si pelanggan jadi terlalu nyaman dan akhirnya malah jadi terus-terusan, atau bisa jadi pelanggan tetap itu sangat menakutkan bagiku.

    Sebelum pulang tante Mira menyempatkan diri untuk mengahampiriku yang sedang mengkrimbat pelanggan lain, aku berpikiran mungkin  dia hanya ingin mengucapkan terima kasih atau sekedar memberi ku uang Tips sperti pelanggan-pelanggan lain lakukan. Dengan muka sumringah dan senyum menawan dia menyapa ku. Dia mengucapkan terima kasih berungkali padaku, sambil menyelipkan kertas kedalam saku bajuku. Aku hanya membalasnya dengan senyum mengembang dari bibir dan menjawab sekenanya saja, karena tanganku sedang penuh dengan busa sampoo.

    Jam menunjukan pukul sembilan malam, aku pulang menggunakan angkutan umum, diperjalanan aku merasakan tubuhku sangat lelah, mungkin aku kecapean karena seharian bekerja tanpa henti. Aku menyenderkan tubuhku di kursi, saat itu bis kota sedang sesak oleh penumpang. Sebelum aku menutup mata tiba-tiba aku teringat kertas yang di selipkan oleh tante Mira di saku bajuku. Perlahan aku membukanya, remang-remang aku melihat tulisan itu, pencahayaan yang seadanya di bus membuat tulisan itu tidak terlalu jelas karena mataku sudah minus, tadinya aku ingin mengurungkan niat untuk membaca, namun rasa penasaran ini mendorongku untuk tetap membacanya, karena mataku sudah tidak kuat lagi menahan kantuk. "Kalau kamu mau bekerja di tempatku, silahkan datang ke kantor. Gedung Epicentrun Lt.15 Jl. Rasuna Said, salam Mira" Namun Secarik tulisan itu aku abaikan begitu saja, dan akupun terlelap dalam tidurku.

    ##

    Aku bekerja di salon itu hampir dua tahun. Sebenarnya pekerjaan itu aku lakukan dengan keterpaksaan, karena sesungguhnya tidak ada sedikitpun dalam benakku untuk melakukan pekerjaan seperti itu. Aku yang berperawakan sangat atletis ini jadi tak berarti apa-apa saat aku sedang bekerja, karena semua orang mengira aku adalah seorang Gay atau pun banci. Namun apalah daya himpitan ekonomi menjadi faktor yang sangat mempengaruhi agar aku tetap bekerja disitu, akhirnya aku harus merasa nyaman untuk melakukan semua pekerjaan yang jauh dari pendidikan-ku, dulu aku pernah kuliah di  Manajemen.

    Tulisan tante Mira hanya aku simpan begitu saja di kosan ku, aku tidak ada niat sama sekali untuk menerima tawaran tante Mira. Namun hati kecilku berbicara lain, aku berfikiran kapan lagi aku mendapatkan kesempatan seperti ini karena mencari pekerjaan di jakarta tidaklah mudah.

    Dengan perasaan canggung aku mengetuk pintu yang tertera di depannya dengan tulisan "Ruang Dirut". Seolah sedang menunggu kehadiranku tante Mira langsung membuka kan pintu lebar-lebar dan mempersilahkanku untuk masuk, dengan perasaan campur aduk aku mengikuti instruksi dia untuk duduk di depan meja yang kelihatannya adalah tempat ia bekerja. Wawancara pun dimulai sesaat setelah seorang office boy mengantarkan Coffee keruangan itu. Pembiacaraan itu dimulai dari pekerjaanku di salon, terus tentang pendidikanku, aktifitas sehari-hari, keluarga, sampai kegiatanku semuanya dia tanyakan. Aku menjawab dengan tenang dan santai. Wawancara itu hampir mirip seperti aku sedang melakukan pekerjaanku di salon, yaitu bekerja sambil ngobrol dengan pelanggan. 

    Setelah puas dengan semua pertanyaan yang diajukan tante Mira mengajakku untuk berkeliling kesemua bagian, aku dikenalkan dengan semua orang yang bekerja disitu. Mungkin ada hampir 50 orang yang bekerja disitu, bahkan sampai OB pun dikenalkan denganku. Aku tidak tau apa maksud dari semua ini, padahal aku juga belum tentu diterima sebagai karyawan di perusahaan itu. Setelah di kenal kan kesemua karyawan aku kembali masuk keruangan tante Mira. Aku duduk lagi berhadapan dengan sang Direktur cantik pelanggan setia salon tempat aku bekerja, dia menceritakan budaya dan aktifitas kerja yang ada diperusahaan yang dia pimpin. Di akhir pembicaraannya itu dia mengatakan sesuatu yang membuatku kaget "Apakah kamu mau bergabung dengan perusahaan ini" tutup tante sang Dirut, aku terdiam sesaat, ini diartikan olehku aku diterima diperusahaan itu. Sambil berfikir dan meyakinkan diri akhirnya aku dengan tegas menjawab siap untuk bergabung.

    Tante  Mira merasa senang karena aku mau menerima tawarannya untuk bekerja bersama nya. Namun dalam hati bertanya-tanya pekerjaan apakah yang akan aku emban nanti, apakah aku sanggup atau tidak untuk menjalan pekerjaan itu. Tante mira menjelaskan lagi pekerjaan apa yang bakalan aku emban nanti, pada sebuah kesimpulan dia memberiku keperyaan yang sangat tinggi aku diberikan jabatan langsung sebagai Direktur Operasional untuk mendampinginya bekerja. Aku terasa tersmbar petir disiang bolong.

    Rapat pimpinanpun diadakan, semua pimpinan diperusahaan itu seolah tidak menerima kehadiranku disitu, apalagi aku orang baru yang ada dilingkungan mereka. Tapi tante Mira memiliki kendali sangat kuat diperusahaan yang dibesarkan oleh suaminya itu. Lewat keputusan Direksi akhirnya aku ditetapkan sebagai Direktur Operasional. Inilah jalan hidup yang mengubahku seratus delapan puluh derajat, karena setalh itu aku menjadi orang yang sangat sibuk, bekerja siang malam untuk menunjukan kepada semua orang bahwa aku bisa untuk mejalankan perusahaan itu dengan baik dan bangkit dari keterpurukan. 

    Seminggu, sebulan, setahun, sampai sepuluh tahun kemudian aku berhasil menjalankan perusahaan itu dan berkembang dengan pesat hingga perusahaan itu memiliki cabang dan anak perusahaan dimana-dimana. Linne bisnis yang sebelum itu hanya mengeruk dan mengolah batubara kini sudah merambah pada bisnis properti, media, perkebunan, sampai transportasi. Akupun hidup bahagia! dengan berlimpah rezeki dari yang maha kuasa.

    the end


                                                 ####

    *Bagaiman kelanjutan ceritanya, tunggu saja tulisan berikutnya





    Friday, May 28, 2010

    Debu jalan terhempas oleh angin kencang, berterbangan kesana kemari, menempel pada setiap yang ia hampiri, dinding rumah, pagar rumah, teras-teras rumah, dan gerobokan pendagang kaki lima di sepanjang jalan itu. Orang yang sedang berjalan pun serta merta menutup hidungnya, pengendara motor yang tak menggunakan masker juga sama. Dengan susah payah mereka menutup hidung dan mulutnya agar terhindar dari debu yang sangat pekat itu. Walau sangat membahayakan dirinya sendiri berkendara dengan satu tangan saja.

    Di jalan yang aku lalui setiap hari ini memang begitu keadaannya, berdebu kala kemarau dan becek penuh tanah kala hujan. Padahal temapat ini adalah kawasan industry,

    Kisah Sedih di Hari Minggu

    Posted at  Friday, May 28, 2010  |  in  Cerpen  |  Read More»

    Debu jalan terhempas oleh angin kencang, berterbangan kesana kemari, menempel pada setiap yang ia hampiri, dinding rumah, pagar rumah, teras-teras rumah, dan gerobokan pendagang kaki lima di sepanjang jalan itu. Orang yang sedang berjalan pun serta merta menutup hidungnya, pengendara motor yang tak menggunakan masker juga sama. Dengan susah payah mereka menutup hidung dan mulutnya agar terhindar dari debu yang sangat pekat itu. Walau sangat membahayakan dirinya sendiri berkendara dengan satu tangan saja.

    Di jalan yang aku lalui setiap hari ini memang begitu keadaannya, berdebu kala kemarau dan becek penuh tanah kala hujan. Padahal temapat ini adalah kawasan industry,

    Thursday, May 27, 2010

    Terpelihara rapi menyibak kesucian dalam balutan keramahan dan ke anggunan pada setiap yang mengenakanya. Menjaga dan memberikan rasa tenang dan tenjaga dari apapun yang akan menyentuhnya. Kain persegi empat yang banyak orang, cuma tau hanya sebagai pelindung kepala akibat rontoknya rambut, karena malu diketawain sama teman-teman kepalanya botak, atau karena ga enak anaknya ustadz masa ga' pake jilbab, atau karena menutupi kedok kemunafikannya, atau mungkin karena ingin mendapatkan simpati dari seorang laki-laki, itu ternyata lebih jauh dari apa yang mereka pikirkan selama ini, jilbab mengandung nilai yang sangat luhur. Dalam syair yang di populErkan oleh grup Qosidahan Nasida ria “ jilbab-jilbab putih lambang kesucian,”

    Jilbab Untuk Menjaga Kesucianku

    Posted at  Thursday, May 27, 2010  |  in  Cerpen  |  Read More»

    Terpelihara rapi menyibak kesucian dalam balutan keramahan dan ke anggunan pada setiap yang mengenakanya. Menjaga dan memberikan rasa tenang dan tenjaga dari apapun yang akan menyentuhnya. Kain persegi empat yang banyak orang, cuma tau hanya sebagai pelindung kepala akibat rontoknya rambut, karena malu diketawain sama teman-teman kepalanya botak, atau karena ga enak anaknya ustadz masa ga' pake jilbab, atau karena menutupi kedok kemunafikannya, atau mungkin karena ingin mendapatkan simpati dari seorang laki-laki, itu ternyata lebih jauh dari apa yang mereka pikirkan selama ini, jilbab mengandung nilai yang sangat luhur. Dalam syair yang di populErkan oleh grup Qosidahan Nasida ria “ jilbab-jilbab putih lambang kesucian,”

    Tentangku-Kebijakan-Kontak
    Copyright © 2010 Ridonesia.com. Distributed By Blogger Themes | Blogger Template by Bloggertheme9
    Proudly Powered by Blogger.
    back to top